Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Diminati Negara Lain, Jokowi Minta HKTI Budidayakan Manggis dan Durian

Diminati Negara Lain, Jokowi Minta HKTI Budidayakan Manggis dan Durian Ilustrasi manggis. ©2019 Merdeka.com/Tantri Setyorini

Merdeka.com - Presiden Joko Widodo atau Jokowi meminta kepada Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) untuk bisa membudidayakan buah tropis di Indonesia. Jokowi berharap Indonesia tidak hanya menanam kelapa sawit yang kini mulai turun peminatnya lantaran adanya virus corona (COFID-19).

Jokowi menjelaskan, saat ini beberapa negara sedang meminati buah tropis. Hal tersebut kata dia jadi peluang untuk Indonesia disambung karet dan sawit.

"Buah tropis ini sebenarnya yang diminati oleh negara-negara lain tuh banyak. Permintaan yang datang ke saya misalnya manggis. Ada salah satu, salah dualah ngurus manggis," kata Jokowi saat Peresmian Pembukaan The 2nd Asian Agriculture & Food Forum (ASAFF) Tahun 2020 di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis (12/3).

Dia menjelaskan saat ini permintaan buah tropis sangat banyak, tetapi barang di Indonesia tidak ada. Mulai dari Timur Tengah, Eropa, China tertarik.

"Tapi barangnya enggak ada. Mestinya kan ada. Dari HKTI satu dua yang memiliki kebun manggis, ya gak usah banyak-banyak, gak usah 100 ribu hektare, tapi 5 ribu hektare manggis," jelas Jokowi.

Buah tropis bisa ditanam di luar Pulau Jawa. Tidak hanya manggis, durian pun kata Jokowi diminati China. Buhan yang besar dan enak, tetapi Indonesia saat ini belum memenuhi pemasukan dengan kualitas yang diinginkan.

"Durian dari kita itu ada yang enak, ada yang enggak enak. Campur-campur," kata Jokowi.

Virus Corona Buat Ekspor Kelapa Sawit RI ke China Anjlok

buat ekspor kelapa sawit ri ke china anjlok rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menyebut bahwa wabah virus corona telah menyebabkan ekspor ke China turun hingga 77 persen.

"Hingga Februari ini, ekspor kelapa sawit dan produk turunannya hanya 84 ribu ton. Padahal, pada periode yang sama di 2019 dapat mencapai 371 ribu ton," jelas Syahrul dalam Rapat Kerja dengan Komisi IV DPR RI pada Senin (17/2).

Syahrul juga menyatakan pihaknya telah melakukan antisipasi terkait penurunan ekspor ke China.

"Antisipasi melalui koordinasi dengan eksportir untuk memanfaatkan pasar ekspor alternatif, seperti India, Timur Tengah, dan Rusia," jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono mengatakan, ekspor kelapa sawit dan turunannya ke negara lain tetap mengalami peningkatan.

"Seperti ke India misalnya, itu kita positif. Jadi ini cuma ke China saja yang negatif," kata Kasdi di lokasi yang sama.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP