Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Dibela anak buah, Jokowi tak berani lawan IMF dan Bank Dunia

Dibela anak buah, Jokowi tak berani lawan IMF dan Bank Dunia Jokowi silaturahmi dengan TNI dan Polri. ©2014 merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Pidato Presiden Joko Widodo dalam pembukaan Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika di Jakarta, cukup mengejutkan. Sebab, dia dengan tegas mengkritik keras ketidakadilan global di perekonomian dunia.

Sejumlah lembaga donor internasional, seperti Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia (World Bank) dan Bank Pembangunan Asia (ADB) tidak lepas dari kritik keras Jokowi. Dari catatan merdeka.com, kritik Jokowi terhadap IMF dan Bank Dunia ini adalah yang terkeras di antara pada presiden Indonesia sebelumnya, atau setidaknya setelah era reformasi 1998.

"Ketidakadilan global juga tampak jelas ketika sekelompok negara menolak perubahan realitas yang ada. Pandangan yang mengatakan bahwa persoalan ekonomi dunia hanya dapat diselesaikan oleh Bank Dunia, IMF, dan ADB adalah pandangan yang usang dan perlu dibuang," tegas Jokowi di hadapan ratusan delegasi dan puluhan pemimpin negara Asia Afrika di Jakarta Convention Center.

"Saya berpendirian pengelolaan ekonomi dunia tidak bisa diserahkan pada tiga lembaga keuangan itu. Kita mendesak reformasi arsitektur keuangan global," tambah Jokowi.

Kepala Staf Kepresidenan Luhut Binsar Panjaitan mendukung pernyataan presiden. Dia berkaca pada bantuan utang dari IMF ke Indonesia saat terjadi krisis moneter medio 1997-1998.

"Karena kalau kita lihat waktu dulu kita krisis itu bantuan diberikan malah terus terang merugikan Indonesia. Tapi kita tidak punya pilihan waktu itu," ujar Luhut dalam acara Tropical Landscapes Summit di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat.

Luhut menjelaskan maksud dari pidato Jokowi di KAA yang menyindir keberadaan IMF dan Bank Dunia. "Yang dimaksud Presiden kan seperti IMF itu tidak bisa dong formatnya mendikte kita. Kalau mau bantu kita silakan saja. Tapi sekarang tidak ada bantuan dari IMF," tuturnya.

Luhut menuturkan, Indonesia masih membutuhkan utang dari lembaga asing. Alasannya, bunga yang ditawarkan sangat kecil dibandingkan perbankan. Pinjaman dari lembaga asing diklaim bisa menggenjot investasi hijau yang ditargetkan tumbuh 20 persen dalam 5 tahun ke depan.

"Sekarang juga kita tidak lawan Bank Dunia karena bisa saja kita kalau minjam dari World Bank untuk dana-dana infrastruktur karena bunganya murah 0,5 persen. Kita tidak against itu," ucapnya. (mdk/bim)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP