Di tengah isu penurunan daya beli, kredit ritel malah tumbuh 7,6 persen
Merdeka.com - Nasib malang nampaknya sedang menghampiri berbagai toko ritel di Tanah Air. Satu per satu ritel menutup gerainya di seluruh wilayah. Terbaru, Lotus Departement Store menutup beberapa gerainya dengan memberikan diskon besar-besaran.
Beberapa pihak menyebut penyebab tutupnya gerai gerai tersebut diakibatkan daya beli masyarakat yang terus merosot. Sementara itu, pemerintah menyebut tidak ada penurunan daya beli yang terjadi hanyalah pergeseran pola konsumsi.
Ketua Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso mengatakan kredit ritel justru naik di tengah gugurnya sejumlah industri ritel. Ritel tumbuh sebesar 7,6 persen dibandingkan koorporasi.
"Kredit ritell justru naik dan NPLnya paling kecil. Kredit ritel tumbuhnya lebih besar dibanding korporasi, yakni 7,6 persen. Salah satu bank yang memang spesialis di ritell," ujar Wimboh di Gedung Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Selasa (31/10).
Melihat hal tersebut, Wimboh mengatakan isu penurunan daya beli sudah terbantahkan. Sebab, data tersebut menunjukkan dari segi kredit ritel atau NPL (Non Performing Loan) tidak terganggu.
"Jadi sebenarnya untuk aktivitas ritel kayaknya enggak terganggu dari segi kredit ataupun NPL. Kemungkinan ini sebenarnya transaksinya tumbuh tapi outletnya berbeda," tegas Wimboh.
(mdk/sau)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya