Di negara lain, BBM lebih mahal tapi ongkos angkutan umum murah
Merdeka.com - Kenaikan harga BBM subsidi di Indonesia hampir selalu disambut dengan penolakan dari beberapa kalangan masyarakat yang tak jarang berakhir dengan bentrokan. Kejadian ini terjadi karena mereka percaya kenaikan BBM subsidi akan mengerek kenaikan harga lainnya seperti harga pangan dan tarif transportasi.
Berbeda dengan negara lain, kejadian bentrokan seperti ini disebut hanya terjadi Indonesia saja. Padahal harga BBM subsidi di Indonesia saat ini masih jauh lebih murah dibandingkan harga BBM di negara lain.
Pengamat transportasi, Djoko Setijowarno mengatakan kenaikan BBM subsidi ikut mengerek kenaikan harga lainnya karena tidak adanya transportasi murah yang berbadan hukum di Indonesia. Jika ada transportasi murah yang disubsidi pemerintah, maka demontrasi dan penolakan tidak akan terjadi karena ongkos angkutan tetap sama dan kenaikan harga bisa dijaga.
"Satu-satunya negara BBM naik yang kemudian bergejolak adalah Indonesia. Ini karena transportasi akan menjadi mahal," jelas Djoko ketika dihubungi merdeka.com di Jakarta, Minggu (30/6). Jika saja ada transportasi murah, maka pengangkutan bahan pangan juga akan menjadi murah sehingga tidak akan ada kenaikan harga.
Dia membandingkan dengan negara China yang harga BBM nya melebihi Rp 10.000 namun transportasi nya tetap murah. Masyarakat tidak terbebani dengan ongkos angkutan."Di China masih ada naik bus sekitar Rp500. Mereka angkutan nya di subsidi negara. Padahal bensin lebih Rp 10.000 di sana," katanya.
Saat ini di Indonesia masyarakat kelas menengah ke bawah menghabiskan 30 persen pendapatan mereka hanya untuk transportasi. Walaupun masih ada angkutan yang murah di Indonesia seperti kereta api, namun masyarakat harus membayar mahal untuk sampai pada stasiun terdekat.
"Untuk ke stasiun mereka berapa kali pindah angkot, belum lagi naik ojek. Dari 30 persen itu, 25 persennya untuk angkot dan ojek," cetusnya.
Djoko juga menyayangkan banyaknya akademisi Indonesia lulusan luar negeri yang tidak peka terhadap angkutan umum ini. Padahal di luar negeri, para akademisi tersebut menggunakan angkutan umum dalam kesehariannya.
"Akademisi sekolah ke luar negeri mereka naik angkutan umum. Harusnya dia protes ga ada angkutan umum di sini, mereka malah ikutan arus dengan kendaraan pribadi," tutupnya. (mdk/idr)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya