Di depan investor, Wapres JK paparkan masalah ekonomi RI saat ini
Merdeka.com - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menjadi pembicara kunci dalam Indonesia Summit 2016 yang diselenggarakan di Hotel Shangri-La, Jakarta, Kamis (25/2).
Dalam pidatonya, Wapres JK mengatakan, Indonesia mematok pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen, atau 5,3 persen yang tercantum dalam APBN 2016. Dia optimistis dengan angka tersebut. Sebab, Indonesia memiliki banyak potensi yang bisa digarap untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Tapi jangan lupa banyak juga situasi negatif yang menjadi tantangan dan harus dihadapi saat ini," katanya.
Tantangan yang mengiringi optimisme pencapaian target pertumbuhan ekonomi tersebut diakui JK berasal dari dalam negeri dan luar negeri.
"Indonesia punya masalah luar dan dalam negeri. Perlambatan ekonomi dunia membuat perlambatan di berbagai aspek, perlambatan ekonomi global, regional-regional termasuk di Indonesia," ujarnya.
Meski demikian, Wapres JK menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam dan terus mencari solusi untuk menghadap berbagai tantangan tersebut.
Pemerintah, lanjutnya, sudah mengeluarkan paket-paket kebijakan ekonomi, sebagai respon terhadap tantangan yang berpotensi menghambat target-target pemerintah.
"Tapi jangan khawatir. Pemerintah telah mempersiapkan hal tersebut sejak beberapa tahun lalu. Berbagai kebijakan telah kami keluarkan salah satunya terkait produk tambang harus diekspor tidak boleh lagi dalam bentuk mentah. Harus diolah dalam bentuk murni," paparnya.
"Indonesia punya sumberdaya yang melimpah. Jumlah penduduk kelas menengah yang besar," imbuhnya.
Tantangannya adalah membuat segala sektor perekonomian di Indonesia bisa berkompetisi dengan negara lain. Oleh sebab itu, Wapres JK menegaskan, Indonesia harus semakin efisien. Lebih khusus, dia kembali menyoroti soal tingkat suku bunga perbankan Tanah Air.
"Kita tahu bunga kredit Indonesia saat ini tertinggi di Asia. Suku bunga kita sekitar 10-12 persen. Agar lebih efisien, kami punya program, tahun depan harus single digit. Kami yakin bisa mencapai itu," tegasnya.
Untuk mencapai single digit, sangat tergantung oleh kebijakan pemerintah. Bank Indonesia telah mengumumkan BI Rate turun dari 7,25 persen menjadi 7 persen. Wapres JK mengaku sangat menghargai keputusan BI tersebut.
"Penurunan bunga akan memberikan dampak yang lebih positif. Penurunan bunga membuat beban industri kita lebih ringan. Yang tadinya mengandalkan pinjaman luar negeri bisa mulai beralih ke perbankan nasional karena bunganya lebih rendah. Industri akan lebih efisien," tutupnya.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya