Di balik anjloknya Rupiah dan IHSG
Merdeka.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah. Berdasarkan kurs Bank Indonesia (BI) rupiah berada di level Rp 11.342 per USD. Pelemahan juga terjadi pada indeks harga saham gabungan (IHSG) yang terjun bebas lebih dari 100 poin ke kisaran level 4.800.
Pelemahan rupiah dan IHSG terjadi sehari usai pemilihan umum (Pemilu) legislatif kemarin. Ekonom dari Universitas Gadjah Mada, A. Tony Prasetiantono memaparkan alasannya.
Salah satunya karena pengaruh politik. Efek pencapresan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) oleh PDI-P terkikis setelah diserang lawan politiknya. Kondisi ini berbanding terbalik saat Jokowi mengumumkan pencapresannya dan membawa rupiah serta IHSG menguat.
Nilai tukar rupiah dan IHSG juga melemah karena pasar kecewa dengan hasil pileg. Salah satunya karena tak ada partai yang memperoleh suara di atas 20 persen.
"Pasar agak dissapointed. Saya kemarin prediksikan rupiah menguat tapi tidak terlalu besar, dengan asumsi PDI-P mendapat sedikit di atas 20 persen, ternyata meleset," jelas dia kepada merdeka.com, Kamis (10/4).
Sementara, untuk pemilu presiden Tony memandang akan memberi sentimen positif terhadap pasar. Asalkan presiden dan wakil presiden terpilih sesuai dengan ekspektasi pasar. Dia memantau duet Jokowi dan Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla merupakan pasangan yang paling diunggulkan berdasarkan data polling yang beredar.
"Meskipun tak tertutup kemungkinan kandidat lain. Tipe wapres pendamping yang mampu mengeksekusi proyek-proyek, terutama infrastruktur yang terbengkalai menjadi dambaan publik mayoritas," ungkapnya.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya