Defisit perdagangan diklaim membaik saat Maret
Merdeka.com - Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengaku sudah memprediksi kalau data neraca perdagangan Januari 2014 bakal defisit. Kendati demikian, dia mengklaim, nominal defisit USD 430,6 juta di awal tahun lebih kecil dibanding perkiraan timnya.
Persoalan terbesar defisit itu akibat dimulainya pelarangan ekspor bahan tambang mentah. Dalam setahun, potensi anjloknya nilai ekspor akibat tak lagi boleh menjual ore senilai USD 6 miliar.
"Perkiraan saya defisit (Januari) bisa mencapai USD 700-800 juta, ternyata hanya 50 persen dari itu," kata Lutfi dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Selasa (4/3).
Faktor lain penyebab defisit Januari adalah musiman. Aktivitas perdagangan dinilai belum antusias akibat masih dalam suasana selesai liburan ganti tahun. Sehingga volume perdagangan terutama nonmigas belum tergenjot secara maksimal dan itu biasa terjadi saban tahun.
Kondisi ini dinilai bisa berubah positif di akhir triwulan I. "Karena ini tren musiman, kami harapkan sudah ada perbaikan neraca Maret nanti," kata Lutfi.
Mendag tidak bersedia mengelaborasi di posisi berapa neraca perdagangan akhir triwulan I nanti.
Di sisi lain, impor hasil minyak yang selama ini jadi penyumbang defisit disebut Lutfi justru menurun. Impor premium dan solar pada Januari 2014 turun 15,8 persen dibanding Desember 2013. Dibanding periode yang sama tahun lalu, impor minyak juga turun 10,4 persen.
Momentum positif di sektor migas ini yang menurut mendag tak bisa dikompensasi ekspor sektor tambang seperti tahun-tahun sebelumnya. "Sehingga komitmen kita melarang ekspor mineral ini memang menyebabkan penurunan yang dalam," ujarnya.
Di tengah persoalan defisit, Lutfi menyoroti fakta lain bahwa sejatinya struktur ekspor nonmigas Indonesia membaik. Hal ini ditandai kenaikan penjualan barang manufaktur di luar negeri. Misalnya mesin pesawat yang naik 33,7 persen, perhiasan 54 persen, produk kimia 26,5 persen, dan kertas naik 11 persen.
Ekspor ke negara tujuan tradisional seperti China, turut melonjak 22,6 persen. Tren positif juga terlihat dari ekspor ke negara non-tradisional seperti Peru, yang naik 187 persen, Nigeria (117 persen), dan Uni Emirat Arab (116 persen).
"Artinya ekonomi dunia pulih, kita tidak ditinggalkan, justru barang kita tetap diserap," kata Mantan Duta Besar Indonesia untuk Jepang ini. (mdk/bim)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya