Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Debat pamungkas, dua capres luput bahas isu BBM subsidi

Debat pamungkas, dua capres luput bahas isu BBM subsidi Debat Capres putaran terakhir. ©2014 merdeka.com/muhammad lutfhi rahman

Merdeka.com - Dalam debat calon presiden dan wakil presiden semalam, kedua pasang kandidat luput menyinggung persoalan utama dalam ketahanan energi nasional. Debat penutup masa kampanye itu tidak dimanfaatkan oleh kubu Prabowo Subianto - Hatta Rajasa dan Joko Widodo - Jusuf Kalla untuk menguraikan strategi masing-masing dalam mengatasi konsumsi BBM subsidi yang terus melonjak.

"Sayang tidak ada yang menyinggung mengenai penghematan energi, itu masih bisa dilakukan dengan memenuhi kebutuhan transportasi massal,misal bangun MRT meskipun butuh waktu 5 tahun. Terus, membatasi penggunaan di dalam kota," ujar Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Rofiky Dwi Putrohari kepada merdeka.com, Minggu (6/7).

Dia menyebut kedua pasang kandidat memiliki visi-misi di sektor energi yang realistis. Namun, butuh waktu untuk menunaikannya.

Semisal, pasangan Prabowo-Hatta mengusung ide mengembangkan energi terbarukan dari minyak nabati.  Namun, menurut Rofiky butuh waktu sepuluh tahun untuk menyukseskan itu.

Meskipun teknologi sudah tersedia,  pengembangan minyak nabati masih terkendala harganya yang sangat mahal. Untuk itu, butuh insentif dari pemerintah.

"Memang eksplorasi itu bener tapi butuh waktu 10 tahun paling tidak. Ya baru bisa dinikmati setelah 2020," ucapnya.

Rofiky membenarkan bahwa produksi minyak nasional bisa meningkat pada tahun mendatang seiring ditemukannya lapangan baru. Namun, itu bukan berarti impor minyak bakal berkurang.

"Iya memang produksi akan naik dengan adanya sumber- sumber baru, tapi pasti kebutuhan juga meningkat. Ini tentunya tidak mengurangi impor," kata dia.

Dia juga menyoroti ide milik pasangan Jokowi-JK yang bakal mengutamakan konversi minyak ke gas. Menurutnya, pengalihan itu membutuhkan waktu untuk pembangunan infrastruktur.

"Untuk gas itu dari sisi upstream plant mahal, seperti pengeboran untuk lapangan gas. Dan untuk downstream plant seperti transmisi dan distribusi tidak sampai triliunan tapi ratusan miliar saja," katanya. (mdk/yud)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP