Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Dari Jurnalis jadi Pengusaha Dodol saat Pandemi Covid-19

Dari Jurnalis jadi Pengusaha Dodol saat Pandemi Covid-19 Deni Jual Dodol. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Tahun 2020 banyak mengubah jalan hidup orang. Pandemi covid-19 yang menyebar diawal tahun menimbulkan efek domino di segala sektor. Banyak orang yang harus memutar otak untuk bisa survive menjalani kehidupan saat pandemi. Tak terkecuali, Deni Muhammad Arif, jurnalis televisi swasta nasional asal Karangpawitan, Garut, Jawa Barat ini, terpaksa banting setir menjadi pengusaha dodol, untuk menopang usaha keluarga.

Meski melenceng jauh dari bidang yang digelutinya selama ini, dan Deni harus belajar secara otodidak, hal tersebut tidak menyurutkan tekad Deni untuk menambah penghasilan lewat berjualan dodol.

Pilihan Deni jatuh kepada usaha dodol dikarenakan melihat bahan baku yang melimpah, serta melihat peluang berkembangnya wisata di daerah Jawa Barat, Deni berhasil membuka usaha mikro kecil dan menengah dengan membuka lapangan pekerjaan bagi orang-orang disekitarnya.

"Tinggal kita cermat melihat pasar yang ada, pasar dodol Garut itu terutama buat kawasan wisata belum semuanya terjamah," ujarnya dalam obrolan hangat dengan Liputan6.com beberapa waktu lalu.

Pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak Maret lalu telah mengubah segalanya. Pekerjaan Deni yang biasanya melakukan peliputan harus tersendat seiring banyaknya pembatasan yang dilakukan pemerintah untuk mengurangi laju penyebaran Covid-19.

"Saya juga terlalu lama bergelut di media ingin mencari sesuatu yang menantang dan menguntungkan," ujarnya.

Pilihan Deni untuk membuka pabrik dodol Garut memang bukan kebetulan. Selain pasarnya yang masih luas, sumber daya masyarakat yang melimpah, memudahkan dirinya untuk membuka usaha baru itu.

"Pegawai saya seluruhnya mantan pegawai dodol dari pabrik sebelumnya yang tutup terimbas pandemi covid-19," ujar dia.

Akhirnya, sejumlah persiapan pun dirancang termasuk mengenai penguatan segmen pasar yang akan digarap, sehingga mampu bertahan dan terus berkembang saat pandemi Covid-19.

Belajar Secara Autodidak

Berbekal keberanian dan cermat dalam melihat pasar, Deni memberanikan diri membuka usaha cemilan manis ini. Dalam pemilihan rasa dodol, ia sengaja mencari rasa yang legit sehingga mampu diterima pasar dengan mudah.

"Ada juga beberapa rasa dodol masukan dari pegawai saya, ini enak ini tidak, kita berdiskusi langsung," kata dia dengan ramah.

Hasil dari buah kenekatan Deni mulai menunjukkan progres menggembirakan. Permintaan pasar terus meningkat yang berdampak pada kenaikan omzet penjualan yang telah ia lakukan dalam enam bulan terakhir.

"Awalnya saya hanya bisa memproduksi satu kuintal (100 kg) sehari, kini sudah mencapai 3-4 kuintal per hari," ujar dia.

Deni optimis pasar dodol Garut miliknya semakin luas. Meskipun terjadi pembatasan di beberapa area wisata karena pandemi Covid-19, tetapi tidak mengurangi animo masyarakat untuk menikmati dodol.

"Coba ke rumah-rumah khususnya di Garut, minimal makanan di ruang tamu ada dodol, sudah seperti snack saja," ujarnya bangga.

Saat ini, varian rasa dodol yang dibuat pabrik Deni cukup beragam, seperti dodol zebra, dodol batik, dengan beberapa ragam rasanya mulai cokelat, buah-buahan, stroberi dan pandan, hingga dodol kertas atau yang bisa menggunakan bungkus kertas.

Deni mengatakan, harga dodol yang ia jual terbilang murah di kelasnya. Untuk dodol kertas biasa dijual Rp16.000 per kilogram, sementara kacang cokelat Rp17.000 per kilogram.Bagi Deni, membuka usaha pabrik dodol banyak memberikan manfaat. Selain memberikan penghasilan yang menggiurkan, juga memberikan lapangan kerja baru bagi masyarakat, terutama saat pandemi Covid-19 saat ini.

"Doakan saja ke depannya, kami mampu memproduksi minimal 1 ton dodol per hari," kata dia.

Sementara total pegawai pabrik dodol ‘Leggi’ (nama dagang yang berarti legit) di Kampung Cogasong, Kecamatan Cilawu, Garut itu, sudah sekitar 14 pegawai, naik tiga kali lipat dari semula.

"Awalnya saya dibantu beberapa tukang bungkus dan ulek, sekarang sudah punya admin dan bagian promosi terutama di medsos (media sosial)," tutup Deni.

Sumber : Liputan6.comReporter : Jayadi Supriadin

(mdk/ttm)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP