Dari 100 juta turis China, baru 1 persen pilih berlibur ke Indonesia
Merdeka.com - Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan Indonesia masih harus meningkatkan promosi pariwisatanya ke China. Hal ini sebagai upaya untuk mencapai target 20 juta wisman pada 2019.
"Setiap tahun jumlah turis China ke mancanegara rata-rata 100 juta orang. Namun, hanya sekitar 1 persen yang ke Indonesia. Padahal, promosi sudah kerap dilakukan," katanya seperti dikutip dari Antara dalam pengarahannya kepada seluruh kepala perwakilan RI di Tiongkok di Beijing, Jumat (10/2).
Dia menuturkan bahwa saat ini China juga tengah mengalami "over investment" di dalam negeri. Ini bisa dijadikan peluang oleh Indonesia untuk menarik investasi ke Tanah Air.
"Indonesia harus dapat menarik banyak investasi dari China. Misalnya, untuk infrastruktur, pengembangan manufaktur, dan menarik turis dari Negeri Panda tersebut," tutur Menteri Bambang.
Dia mengemukakan bahwa turis mancanegara terbesar ke Indonesia masih dari Malaysia dan Singapura, disusul Jepang dan China, Korea Selatan, India, Australia, dan negara lain. "Jika kita petakan, untuk negara ASEAN seperti Malaysia dan Singapura, kita relatif tidak perlu lagi promosi karena mereka sudah lebih mengenal Indonesia, jarak pun dekat," katanya.
Dalam rapat terbatas mengenai 'branding Indonesia', khusus pariwisata, beberapa waktu lalu, kata Menteri Bambang, terungkap China termasuk ke dalam kategori jumlah turis yang minatnya ke Indonesia masih sangat sedikit.
"Pengertian sedikit di sini adalah jumlah kunjungan turis China ke Indonesia dibandingkan jumlah seluruh turis China yang melancong ke mancanegara," ujarnya.
Bagaimanapun, lanjut Menteri Bambang, sektor pariwisata menjadi penting bukan karena jumlah turis yang banyak, melainkan jumlah pengeluaran yang dilakukan turis selama berlibur di suatu destinasi, dalam hal ini Indonesia.
"Turis China, kelas dan kualitasnya yang ke Indonesia juga masih rendah. Jadi, jumlahnya masih rendah, kualitas dan kelasnya rendahnya, minatnya ke Indonesia juga rendah. Ini tantangan bagi perwakilan RI di China untuk berupaya lebih meningkatkan turis China ke Indonesia," katanya.
Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia Soegeng Rajardjo mengatakan bahwa promosi Indonesia dapat secara simultan, yakni di dalam negeri dan luar negeri, antara lain, melalui perwakilan RI seperti Kedutaan Besar RI dan Konsulat Jenderal RI.
"Perilaku kita di dalam negeri, juga salah satu bentuk sederhana dari promosi kepada turis yang tengah berlibur di Indonesia. Buatlah Indonesia aman dan nyaman bagi turis yang datang," katanya.
Dubes Soegeng menambahkan bahwa "branding nation" untuk pariwisata Indonesia, tidak perlu muluk-muluk, tetapi mudah diingat dan dipegang teguh oleh semua pemangku kepentingan di dalam negeri sehingga menarik minat investor dan turis datang ke Indonesia.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya