Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Dampak Panjang Konflik Rusia-Ukraina, Harga Komoditas Melejit dan Ancaman Inflasi

Dampak Panjang Konflik Rusia-Ukraina, Harga Komoditas Melejit dan Ancaman Inflasi Menkeu Sri Mulyani. ©2020 Media Center Kemenkeu

Merdeka.com - Konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina telah mendorong kenaikan harga-harga komoditas dan energi. Perang ini disebut sudah pasti mempengaruhi harga energi, karena memang Rusia menjadi salah satu produsen energi besar dunia.

Komoditas yang harganya naik di antaranya, natural gas mengalami kenaikan sebesar 58 persen, batu bara melonjak harganya 92,9 persen, minyak Brent mengalami kenaikan 54 persen, CPO naik 27 persen.

Kemudian, harga gandum juga naik karena Rusia dan Ukraina merupakan produsen penting penghasil gandum. Harga gandum melonjak 42 persen dan harga dari jagung juga mengalami kenaikan sebesar 26,7 persen.

"Harga barang ini yang menentukan inflasi, karena dia (Rusia-Ukraina) penentu harga energi, harga pangan di negara barat maupun bahkan di negara kita. Karena dia juga mempengaruhi banyak sekali konsumsi yang sekarang basisnya adalah gandum dan jagung termasuk dalam hal ini harga pangan untuk peternakan," kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KITA Edisi Maret 2022, secara virtual, Senin (28/3).

Sri Mulyani menjelaskan, dengan kenaikan harga energi, komoditas dan pangan maka tekanan inflasi melonjak sangat tinggi. Ini bisa dilihat dari index producer price kenaikannya sudah sangat tinggi, bahkan di Eropa kenaikannya sudah mencapai 30 persen, meskipun inflasinya baru meningkat 5,6 persen.

"Ini menggambarkan tekanan yang berat dari sektor produsen, karena mereka mengalami kenaikan harga barang-barang, tapi di sisi lain harga barang jadinya di tingkat masyarakat hanya naik 5,6 persen, dan ini dilema dan komplikasi pemulihan ekonomi inilah yang akan dihadapi oleh semua negara banyak negara, Indonesia juga pasti terkena imbasnya," jelasnya.

Negara yang Hadapi Masalah

Selain Eropa, negara lainnya yang nilai producer price lebih tinggi dari consumer price di antaranya Amerika Serikat, Jerman, China, Meksiko, India, Inggris, Brasil, Italia, dan Indonesia.

"Nantinya negara-negara ini memiliki kebijakan yang makin sulit, jika harga sudah sangat tinggi pasti tekanan terhadap producer kalau di naikkan suku bunga akan menekan daya beli juga akan menekan investasi lebih besar lagi," katanya.

Sehingga ancaman terhadap momentum pemulihan ekonomi itu menjadi sangat nyata, dengan dilema kebijakan yang sekarang dihadapi oleh semua negara, yaitu menstabilkan harga yang sangat menantang.

Namun, di sisi lain menjaga momentum pemulihan ekonomi juga mengalami pelemahan yang terlalu cepat. Banyak negara yang sudah melakukan response policy.

"Semuanya producer price nya sudah diatas consumer price, pertanyaannya berapa cepat dan berapa besar producer price index ini akan diterjemahkan menjadi harga ditingkat konsumen yang meningkat," tutup Sri Mulyani.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP