Dampak Corona Masih Terasa, Target Pertumbuhan Ekonomi RAPBN 2021 Tak Rasional
Merdeka.com - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani, menilai asumsi makro pertumbuhan ekonomi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2021 yang disusun pemerintah sebesar 4,5 persen sampai 5 persen terlalu tinggi. Sebab, dia memandang pemulihan ekonomi belum akan terjadi pada tahun depan.
Dia mengatakan penemuan vaksin virus Corona saja bisa 2 sampai 3 tahun. Artinya, tidak akan terjadi peningkatan permintaan domestik seperti sebelum terjadi Covid-19. Menurutnya, permintaan itu mungkin baru pulih sekitar 30-40 persen saja, belum sampai kembali ke 100 persen.
"Kita perhatikan, karena kalau kita lihat pemerintah tahun depan itu yakin sekali dengan pertumbuhan 4,5 sampai 5 persen. Padahal kita asumsikan kalau tahun depan itu belum ditemukan vaksin kemungkinan masih akan seperti saat ini (pertumbuhan ekonominya)," kata dia dalam diskusi virtual di Jakarta, Jumat (17/7).
Sebelumnya, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI telah menyelesaikan pembahasan pendahuluan penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2021 dalam Sidang Paripurna yang digelar Kamis (16/7). Kebijakan fiskal APBN tahun anggaran 2021 nantinya akan diarahkan untuk percepatan pemulihan ekonomi dan penguatan reformasi.
"Kebijakan ini dapat berjalan efektif apabila penanganan Covid-19 dan dampaknya di tahun 2020 ini berjalan dengan baik," kata Ketua DPR RI, Puan Maharani.
Asumsi Makro RAPBN 2021
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comPemerintah dan DPR telah menyepakati asumsi makro RAPBN 2021, yaitu: pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5-5,5 persen, inflasi 2,0 - 4,0 persen, nilai tukar rupiah Rp13.700-14.900 per USD, suku bunga SBN 10 tahun 6,29 - 8,29 persen, ICP USD42-45 per barel, lifting minyak bumi Rp690-710 ribu barel per hari, serta lifting gas bumi Rp990-1.010 ribu per hari.
Dengan target dan indikator pembangunan pada 2021 yang disetujui bersama adalah tingkat pengangguran terbuka pada kisaran 7,7-9,1 persen, tingkat kemiskinan pada kisaran 9,2-9,7 persen, target gini rasio 0,377-0,379, target indeks pembangunan manusia (IPM) 72,78-72,95, serta menetapkan Indikator pembangunan Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 102-104 dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) sebesar 102-104.
"Dengan penetapan asumsi makro dan target pembangunan tahun 2021 tersebut, Pemerintah agar memperhitungkan dengan cermat berbagai kemungkinan dalam mengantisipasi ketidakpastian di masa yang akan datang, dengan menyediakan ruang fiskal yang antisipatif sehingga APBN Tahun Anggaran 2021 dapat berjalan efektif," pesan Puan.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya