Curhat para pedagang soal harga cabai tak kunjung turun
Merdeka.com - Harga cabai di pasar Kabupaten Buleleng, Bali, Minggu (5/2), masih tetap mahal. Pasar murah yang dilakukan pemerintah setempat di sejumlah titik belum mampu menurunkan harga komoditas hortikultura bercita rasa pedas tersebut.
"Harga cabai belakangan ini belum mengalami penurunan kini masih di kisaran harga Rp 60.000 sampai Rp 70.000 per kilogram," kata Made Ayu, salah satu pedagang, di Pasar Anyar, Kota Singaraja.
Pihaknya berharap pemerintah segera melakukan tindakan dengan melakukan operasi pasar atau sejenisnya untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok tersebut.
Ayu menambahkan, pedagang mengalami kerugian jika terus harga cabai mahal. Cabai yang didiamkan dalam waktu lama akan cepat mengalami pembusukan sehingga tidak dapat dijual.
"Kadang kala kalau harga terlalu mahal akan sedikit yang beli. Apalagi pedagang kecil seperti saya yang harus membeli cabai dari pengepun dulu. Kalau sudah lama pasti busuk," terangnya seperti dikutip dari Antara.
Tak hanya itu, harga cabai di pasaran Kota Palu hingga akhir pekan pertama Februari 2017 ini juga masih tinggi mencapai Rp 80.000 per kilogram, sehingga dibutuhkan operasi pasar untuk menekan harga.
"Bulog perlu operasi pasar untuk menekan harga cabai," kata Halimah, seorang pedagang warung makan di Palu.
Dia mengatakan, harga cabai sekarang ini cukup tinggi, padahal sejumlah daerah di Sulteng adalah sentra produksi cabai. Namun karena produksi petani menurun, harga cabai di pasaran melonjak tajam.
Bulog sebagai alat pemerintah yang mendapat penugasan khusus menangani sejumlah komoditi pangan, perlu melakukan intervensi pasar dengan menjual cabai seperti dilakukan pada komoditi lain yang selama ini sudah jalan.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya