Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Curhat Luhut: Saya Dulu Dibully karena Dituduh Pro China

Curhat Luhut: Saya Dulu Dibully karena Dituduh Pro China Luhut Binsar Panjaitan. ©2019 Humas Menko Kemaritiman

Merdeka.com - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengakui pernah dituduh sangat mendewakan para investor asal China. Namun dia tak ambil pusing dan membuktikan kalau Indonesia tidak dikontrol oleh satu negara hanya karena berinvestasi.

"Saya dulu dibully China, China, China. Its' oke sekarang Anda bisa lihat. Tidak ada itu China-China," kata Luhut saat mengisi Kuliah Umum di Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (19/8).

Tak hanya dituduh pro investor China, dia juga kerap mendengar selentingan yang menyebut Indonesia dikontrol China. Padahal, kata Luhut perdagangan Indonesia dilakukan atas kendali sendiri, bukan atas kehendak pihak lain.

"Orang bilang kita dikontrol China. Para mahasiswa yang kita banggakan, kalau kita dikontrol orang, perdagangan kita juga dikontrol," kata dia.

Luhut menjelaskan, trade defisit perdagangan Indonesia dengan China pada tahun 2015 tercatat USD 27 miliar. Namun di tahun 2021, defisit ini turun drastis, tinggal USD 2,5 miliar. Bahkan Luhut memprediksi tahun ini, Indonesia akan mengalami surplus sekitar USD 500 juta hingga USD 1 miliar.

"Dan kita ini dikenakan dumping sama China 20 persen karena lebih efisien," kata Luhut.

Efisiensi yang dimaksud tercermin dari harga listrik di Indonesia yang lebih murah, yakni Rp 5 per kwh. Sedangkan di China harga listrik bisa mencapai Rp10-12 per kwh. Begitu juga dari sisi pengeluaran transportasi. Transportasi Indonesia-China bisa menghabiskan anggaran USD 15-20. Sementara biaya transportasi antar pulau di Indonesia hanya sekitar USD 1-2.

"Jadi siapa yang bisa lawan kita?," ungkap Luhut.

Maka dia menegaskan, Indonesia sejak awal telah menjadi menjadi tuan rumah di negaranya sendiri. Pemerintah mengatur bisnis tanpa campur tangan orang lain. Kalau pun masih banyak investor China di Indonesia, hal itu hanya sekedar kepentingan bisnis semata.

"Kalau dia taruh duit ya pasti ada China-nya. Seperti freeport 55 tahun di Indonesia, apa nilai tambah yang didapat? Sekarang enggak bisa, harus bikin semua di sini," kata dia mengakhiri.

(mdk/azz)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP