Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ciputra: Kenaikan bunga KPR hapus aksi spekulan properti

Ciputra: Kenaikan bunga KPR hapus aksi spekulan properti Ciputra. ciputra.com

Merdeka.com - Bank Indonesia (BI) saat ini sudah menaikkan BI rate sebesar 175 basis poin (bps). Kenaikan BI Rate ini memicu industri perbankan untuk menaikkan suku bunga simpanan dan suku bunga kredit, termasuk kredit pemilikan rumah (KPR).

Kenaikan suku bunga KPR dinilai menjauhkan mimpi sebagian masyarakat Indonesia untuk memiliki rumah. Di sisi lain, pengembang perumahan juga dipaksa melakukan perhitungan ulang sebelum membangun rumah.

Namun, pengembang properti di Indonesia Ciputra Group mengaku masih terus melakukan pembangunan properti di berbagai wilayah di Indonesia meski suku bunga KPR meningkat. Komisaris Utama Ciputra Group Ciputra mengaku tidak khawatir mengenai ancaman turunnya pembelian rumah oleh masyarakat.

"Kami sangat optimis Indonesia masih besar dalam kebutuhan perumahan, backlog masih besar dan selama bunga bank masih reasonable, masyarakat masih membutuhkan, masih ada pembelian," ujar Ciputra di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Senin (24/2).

Ciputra justru menilai, tingkat suku bunga KPR yang tinggi mampu meminimalisir aksi para spekulan di bidang properti yang kerap mengganggu pasar properti di Indonesia. "Dengan adanya tingkat bunga tinggi akan mengurangi spekulator. Kami selalu menyasar end user. End user itu bukan spekulasi," tutur Ciputra.

Ciputra menilai, suku bunga KPR idealnya berada di kisaran angka satu digit. Dengan suku bunga satu digit, maka masyarakat dinilai lebih mampu untuk memiliki rumah. "Idealnya di bawah 10 persen ya, single digit," imbuh Ciputra.

Direktur PT Ciputra Residence Agussurja Widjaja menambahkan, perseroan mendapati kebutuhan rumah di Indonesia bertambah sekitar 800.000 per tahun. Kebutuhan rumah yang tinggi ini menjadi dasar optimisme perseroan untuk terus membangun perumahan di Indonesia.

"Pembeli kita sebagian besar adalah end user. Efeknya ada tapi tidak sebesar target market segmen yang lain. End user adalah orang-orang yang butuh rumah. Backlog sekarang 14 juta, tiap tahun bertambah 800.000, jadi demand tetap ada," tutup Agus.

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP