Cerita penjaga perbatasan Singapura-Indonesia di Pulau Pertamina
Merdeka.com - Namanya Sabarudin Abadi Baros, mengaku asli Tapanuli, Sumatera Utara. Jabatannya Kepala Operasional Terminal BBM Pulau Sambu, Kota Batam, Kepulauan Riau. Walau secara resmi punya jabatan kepala, nyatanya pria 44 tahun ini nyaris sendirian mengurus pangkalan minyak di pulau kecil milik PT Pertamina itu.
"Pegawai organik ada delapan orang, tapi kabarnya selama revitalisasi, cuma tinggal saya sama istri saja. Sekarang saja sudah banyak yang dimutasi," ujarnya kepada wartawan yang berkunjung ke fasilitas itu, Kamis (13/2).
Baros, demikian dia disapa, ditinggal sendiri lantaran kegiatan operasional distribusi minyak dan gas praktis berhenti sejak akhir tahun lalu di Sambu. Pertamina memutuskan merevitalisasi TBBM itu supaya punya kapasitas tampung lebih besar.
Karena kerap sendirian itu, dia mengaku senang menceritakan banyak hal pada setiap tamu mampir ke Sambu. Pria legam tegap dengan kumis tebal itu kerap bertutur kata keras, lugas, tapi penuh semangat.
Keriangan itu terpancar, termasuk saat menceritakan hobinya menyaksikan kawasan industri Bekom, Singapura. Daratan negeri jiran kini semakin terlihat jelas dari pinggir pantai Sambu buat Baros. "Saya dapat teropong baru dari pemborong yang disewa Pertamina buat membangun Sambu," akunya.
Pulau ini masuk kategori terdepan di garis batas Indonesia. Pemerintah memberi status obyek vital negara, sehingga ada penjagaan TNI.
Tak sampai 10 kilometer dari Sambu, maka kita mencapai zona perairan bebas, lalu berikutnya sudah masuk wilayah Negeri Singa itu. "Pulau ini sangat strategis, dekat sini sudah Selat Rafflesia, kemudian Selat Malaka".
Meski baru dua tahun bertugas di Sambu, Baros tahu semua cerita menarik yang membuat orang di sekitarnya betah bercengkrama lama-lama. Mulai dari pemakaman orang Bugis di puncak bukit tertinggi pulau yang dulu dipunyai Shell tersebut.
Beberapa cerita mistis mengenai mess pegawai Pertamina yang sering kosong, sampai suka duka berada di pulau terdepan Indonesia. Dari hobinya memantau Singapura di pos sisi timur pulau, Baros mengaku tak berusaha menggantikan tugas TNI.
"Cuma memperhatikan kapal saja, kadang ada kapal merapat ke sini. Jadi kita pantau, cuma masalah operasional saja," ujar pria yang putranya tinggal di Medan ini.
Berbatasan dengan Singapura memberikan beberapa kisah lucu baginya. Baros mengaku, sinyal telepon operator Indonesia sering hilang di Sambu, berganti dengan layanan SingTel. Jika sudah demikian, siap-siap saja keki, karena pengguna ponsel bakal kena biaya roaming selangit.
Di sisi lain, pria ini mengaku tak ada masalah dengan Singapura, walau kini mencuat kisruh diplomatik akibat penamaan kapal perang TNI AL Usman Harun. Kendati demikian, Baros kerap berkelakar menyebut Negeri Singa itu sebagai 'pesaing'.
Kadang, kalau laut surut, jarak Sambu dan Singapura terasa lebih dekat. "Kita ketapel kena itu barangkali Singapura," tuturnya sambil tergelak.
Tinggal di pulau kecil hanya ditemani istri menurutnya tak masalah. Kota Batam yang lebih ramai tak pernah membuatnya nyaman. "Kalau malam minggu (Batam) sudah tak bisa gerak jalanan. Lebih baik di sini, tenteram," ucapnya.
Ketika rombongan meninggalkan pulau, dia meminta semua orang kembali lagi jika sempat. Baros mengaku sudah menyediakan fasilitas hiburan karaoke dan lapangan futsal supaya orang kerasan.
Kami pergi, dan beberapa hari lagi sunyi menguasai Sambu. Dia hanya akan ditemani sang belahan jiwa, menjaga pulau terdepan milik Pertamina .
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya