Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Cerita JK soal melimpahnya cadangan minyak RI hingga harus impor

Cerita JK soal melimpahnya cadangan minyak RI hingga harus impor Jusuf Kalla. ©2015 merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK) mengenang masa keemasan produksi minyak di Indonesia. JK bercerita, pada tahun 1985 produksi minyak di Tanah Air mencapai 1,5 juta barel per hari (bph).

‎"Tapi sekarang kita tinggal setengah nya sekitar 800 ribu bph. Sehingga kita terpaksa mengimpor untuk memenuhi kebutuhan konsumsi minyak yang mencapai 1,5 juta barel per hari," kata JK di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Kamis (7/9).

Menurut JK, ada dua hal yang harus dilakukan oleh semua pemangku kepentingan dalam mendukung peningkatan atau mempertahankan produksi minyak Tanah Air.‎ Pertama, meningkatkan kemampuan di bidang energi, terutama masalah modal.

"Maka itulah diperlukan investasi di bidang minyak, walaupun harga batubara turun, tapi harus ada kelanjutan. hampir separuh produksi nanti harus dalam negeri," tuturnya.

Kedua, ‎di bidang gas, pihaknya akan terus meningkatkan produksi. "Tapi kecenderungan dunia untuk memperbaiki kondisi lingkungan akan sedikit menghambat. Maka mendorong kebutuhan renewable energi makin tinggi adalah keharusan," ucapnya.

JK mengatakan, sejumlah negara saat ini terus melakukan kajian untuk mencari temuan-temuan baru. Hal ini dilakukan tidak bergantung pada energi fossil yang tidak dapat diperbaharui.

"Jepang tidak punya minyak dan gas, tapi ada juga negara seperti Skandinavia, Austria yang 80 persen energi listriknya dari renewable," imbuhnya.

JK kembali menekankan, langkah-langkah ini perlu dilakukan agar bisa terus memenuhi kebutuhan energi masyarakat. Tidak melulu berfokus pada minyak, melainkan juga energi terbarukan.

"Negara seperti Venezuela punya sumber minyak terbesar di dunia. Tapi saat ini mencari makan saja susah. Sangat miskin karena dia memperlakukan energi yang sangat murah bukan sebagai komersial. Negeri itu akhirnya kolaps ketika harga minyak anjlok dan tidak memiliki temuan baru," tutupnya.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP