Cerita Bos BI NTB amankan peredaran uang pasca gempa
Merdeka.com - Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Achris Sarwani mengatakan salah satu hal penting yang dijaga oleh Bank Indonesia pasca gempa Lombok adalah peredaran uang di masyarakat. Meski bank tutup karena gempa, namun peredaran uang harus tetap berjalan terutama di mesin-mesin ATM yang tersebar.
"Peredaran uang di masyarakat strateginya adalah jaga uang di ATM itu cukup. Jadi kita tetap komunikasi sama bank, tolong jangan sampai ATM kosong. Itu bisa menurunkan kepercayaan masyarakat kepada perbankan," ungkapnya saat ditemui di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, seperti ditulis Jumat (17/8).
Karena itu, komunikasi intensif dengan pihak perbankan terus dilakukan. Sehingga jika ketersediaan uang tunai di ATM mulai menipis, maka akan segera ditambah.
"Kita komunikasikan dengan perbankan, tolong kalau ada yang butuh, cepat sampaikan. Kita tidak mau ada kesan uang itu tidak ada. Jadi masyarakat ketika ambil melalui ATM, meskipun bank tutup, ada uang. Pastikan ada uang dan kami akan suplai," katanya.
Dia mengisahkan gangguan pada peredaran uang tunai dapat diatasi dengan relatif cepat. Pihaknya dan perbankan juga aktif memberikan informasi kepada masyarakat terkait pelayanan di kantor-kantor cabang perbankan yang masih dapat beroperasi.
"Hanya di awal, tanggal 5 Agustus kena gempa, 8 Agustus sudah mulai normal. Kena lagi 9. Teman-teman bank juga info, Pak hari ini kami tidak buka. Atau Pak kami buka hanya di sini, jadi layanan dari kantor yang tutup itu dipindahkan ke kantor cabang yang lain yang masih bisa beroperasi. Kami kontrol terus," ujar Achris.
Selain menjaga peredaran uang, pihaknya juga berkoordinasi dengan Pemda, untuk memberanikan pelaku usaha agar segera mulai menjalankan roda bisnis.
"Toko-toko kita minta mereka jangan lama-lama tutup. Nanti masyarakat mau beli makanan susah kan. Nanti merasa khawatir. Mereka kemudian buka. Sehingga uang ada, barang ada, jadi normal lagi," papar dia.
"Aktivitas bisnis. Stoknya ada. Tapi mereka tidak berani buka. Kalau terpal memang gak ada. Terpal sama selimut yang harus kita datangkan dari Surabaya dan Bali. Kalau bahan makanan ada," imbuhnya.
Bergulir kembalinya sektor perdagangan sangat penting. Peredaran uang yang berangsur-angsur normal, tidak cukup memberikan manfaat optimal tanpa ketersediaan barang di pasaran.
Peredaran uang tanpa sokongan sektor perdagangan malah dapat menyebabkan sentimen negatif baru pada psikologi masyarakat, seperti kecemasan akan ketersediaan barang, atau kecurigaan sosial, bahwa ada pelaku usaha yang sengaja menimbun barang.
"Psikologi masyarakat itu kan penting. Pernah isu air minum. Bukan tidak ada air minumnya. Hanya yang kerja memang takut masuk pabrik. Kan biasa masih dicekam gempa. Caranya air minum yang biasa operasi di Sumbawa kita suruh masuk saja. Tapi kita memang bersyukur dalam keadaan ini tidak orang yang memanfaatkan situasi untuk menaikkan harga barang," tandasnya.
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya