Cara Mudah Hemat Uang saat Libur Panjang Akhir Pekan
Merdeka.com - Juni, menjadi salah satu bulan yang paling dinantikan para kaum pekerja di Indonesia. Mengingat, pada awal bulan ini terdapat masa libur panjang (long weekend) untuk dimanfaatkan masyarakat baik melakukan liburan maupun pulang ke kampung halaman.
Diketahui, pemerintah menetapkan tanggal merah pada 1 Juni untuk memperingati Pancasila. Kemudian, pemerintah juga menetapkan cuti bersama Hari Raya Waisak pada tanggal 2 Juni di hari Jumat.
"Otomatis, kamu akan mendapat jatah libur selama 4 hari dengan hari weekend," tulis Bank BJB melalaui laman resminya dikutip di Jakarta, Jumat (2/6).
Namun demikian, sebaiknya Anda perlu untuk mengatur kembali keuangan saat memutuskan untuk berlibur. Hal ini dimaksudkan agar kegiatan liburan tidak menguras keuangan.
Lantas bagaimana cara mengatur keuangan saat libur panjang?
1. Pilih Destinasi yang Ramah Kantong
Jika kondisi keuangan belum mendukung, sebaiknya Anda memilih destinasi wisata dengan tarif terjangkau. Tidak mesti liburan ke luar kota, mentraktir makan dan membawa keluarga jalan-jalan selama satu hari ke tempat yang ingin mereka kunjungi juga tidak kalah menyenangkan.
“Anda bisa melakukan bujeting di awal bulan dengan menentukan besaran dana maksimal yang akan kamu alokasikan untuk kegiatan ini," tulis BJB.
2. Menabung Setiap Hari
Ketimbang mengeluarkan uang untuk jajan, lebih baik alokasikan saja untuk menabung demi kegiatan libur panjang di Bulan Juni. Agar dana tersebut cepat terkumpul, lakukan saja strategi menabung per hari dari sekarang.
Misalnya, dalam satu hari Anda mengalokasikan uang Rp50.000 untuk liburan. Maka pada tanggal 1 Juni, Anda bisa saja mengantongi uang Rp1,15 juta.
"Anda pun bisa menggunakan uang tersebut untuk aktivitas liburan tanpa harus memotong pengeluaran self reward yang sudah ditentukan di awal bulan," jelas BJB.
3. Hindari Utang
Langkah selanjutnya sebaiknya anda menghindari berutang, menggunakan kartu kredit, paylater, dan sebagainya untuk kegiatan libur panjang Bulan Juni. Bagaimana pun juga, utang akan menimbulkan penghasilan pasif yang bersifat wajib.
"Ketimbang menambah beban keuangan, maka alangkah baiknya untuk mempersiapkan pengeluaran itu jauh-jauh hari," terang BJB.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya