Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Buka cabang Rp 1 M, bunga bank Indonesia tertinggi se-ASEAN

Buka cabang Rp 1 M, bunga bank Indonesia tertinggi se-ASEAN Indonesia Banking Expo 2012 di JCC. ©2012 Merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Bank Indonesia (BI) menyebut fenomena tingginya suku bunga perbankan Tanah Air turut disumbang oleh rasio Biaya Operasional terhadap Pengeluaran Operasional (BOPO) yang kurang efisien. Itu sebabnya bunga kredit bank-bank nasional terhitung paling tinggi se-ASEAN, mencapai 10 persen. Padahal di negara lain, seperti Thailand atau Malaysia, suku bunga kredit rata-rata mendekat 5 persen saja.

Pengamat perbankan Paul Sutaryono membenarkan pandangan BI. Saat ini biaya untuk membuka kantor cabang di Jawa maupun luar Jawa terbilang mahal, sehingga mempengaruhi tingkat efisiensi perbankan.

"Memang mahal untuk kelas bank besar dengan kisaran Rp 1 miliar," ujarnya saat dihubungi merdeka.com, Sabtu (25/5).

Menurutnya, saat ini juga pembukaan cabang di setiap perbankan tidak semudah dahulu. Pasalnya, banyak kendala saat ini yang harus diterima perbankan besar maupun kecil, terutama izin dari pemerintah daerah.

"Sekarang susah izinnya termasuk bangun gedungnya, apalagi di luar Jawa," jelasnya.

Dia menyarankan, guna mengatasi mahalnya biaya pembangunan kantor cabang baru ini, maka perbankan nasional harus mengupayakan peningkatan modalnya. "Modal intinya harus ditingkatkan termasuk SDM di dalamnya agar nantinya tingkat efisiensi lebih terjaga," ungkap Paul.

Sebelumya, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menilai ada potensi kartel suku bunga karena rata-rata interest margin, Rasio BOPO, NIM bank-bank nasional tidak efisien. Kemungkinan ada koordinasi antar bank dominan sehingga bank lain turut menetapkan bunga kredit selalu di atas 12 persen.

Isu kartel bunga bank oleh KPPU sempat mereda. Namun di acara Indonesia Banking Expo 2013 kemarin, Ketua ASEAN Competitivenes Institute, Soy Martu Pardede menyebut saat ini di Indonesia diduga kuat ada kartelisasi perbankan dalam menentukan tingkat bunga kredit. Hal ini terbukti masih tingginya NIM (Net Interest Margin) yang terus dipertahankan perbankan. Namun dia ragu Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mampu menguaknya.

"Kartelisasi dalam bunga perbankan nuansa dan baunya ada. Tapi apa KPPU sanggup mencari kartel disana, apakah bisa dibuktikan. Saya sebagai mantan komisioner KPPU, itu sangat sulit dibuktikan," ucap Soy dalam seminar di JCC kemarin.

Tudingan KPPU dibantah Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Dia menilai suku bunga yang ada saat ini sesuai dengan kondisi masing-masing bank dan kondisi pasar.

Menurutnya, jika tingkat suku bunga mengalami kecenderungan meningkat, bukan menurun, maka itu jadi indikasi adanya kartel. Yang terjadi saat ini adalah tingkat suku bunga, kecenderungannya mengalami penurunan walaupun tidak signifikan mengikuti penurunan BI Rate. (mdk/noe)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP