Brexit buka peluang untuk Indonesia
Merdeka.com - Keputusan mayoritas warga Britania Raya untuk hengkang dari Uni Eropa atau Brexit sangat mengejutkan. Tidak hanya untuk warga negara monarki itu saja, tetapi juga sebagian atau mungkin seluruh populasi dunia.
Sebab, sejumlah jajak pendapat mengunggulkan Inggris Raya bertahan dalam Uni Eropa. Namun, referendum menghasilkan fakta bahwa 51,9 persen warga Inggris, Irlandia Utara, Skotlandia, dan Wales memilih bercerai dari blok dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut.
Dewi Fortuna Anwar, pengamat politik internasional, menilai hasil referendum merefleksikan kemenangan politik populis atas rasional ekonomi.
Menurutnya, berdasarkan kalkulasi ekonomi, Inggris Raya akan merugi jika keluar dari Uni Eropa. Namun, bayang-bayang kerugian itu ternyata kalah menakutkan ketimbang gelombang imigran
"Berdasarkan traktat Lisbon 2007, Inggris bisa melakukan perundingan untuk keluar dari Uni Eropa selama dua tahun dan bisa diperpanjang jika dikehendaki negara anggota," kata deputi sekretaris Wakil Presiden Jusuf Kalla itu dalam sebuah diskusi, kemarin.
Selama itu, lanjutnya, Inggris tetap tunduk pada aturan Uni Eropa. Namun, tidak dapat terlibat dalam proses pengambilan keputusan.
"Uni Eropa harus menarik benangnya satu persatu. Di Inggris sendiri katanya ada sekitar 80 ribu lembaran legislasi harus di baca ulang mana harus di ubah mana yang dapat dipertahankan. Sehingga wajar Perdana Menteri Inggris David Cameron 'cuci tangan'." (mdk/yud)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya