BPS: Februari 2022 Terjadi Deflasi 0,02 Persen Dipicu Harga Minyak Goreng
Merdeka.com - Badan Pusat Statistik mencatat selama bulan Februari 2022 terjadi deflasi 0,02 persen. Sedangkan secara tahunan atau year on year (YoY), inflasi Februari 2022 tercatat sebesar 2,06 persen. Sedangkan untuk tingkat inflasi tahun kalender pada Februari 2022 sebesar 0,54 persen.
"Bulan Februari ini terjadi deflasi 0,02 persen," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Setianto dalam konferensi pers, Jakarta, Selasa (1/3).
Setianto menjelaskan, penyumbang deflasi tertinggi yaitu harga-harga komoditas seperti minyak goreng, telur ayam ras dan daging ayam ras yang dipatok sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET). Sehingga tingkat inflasi tahun kalender sebesar 0,54 persen. Angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan pada Januari yang mengalami inflasi secara bulanan 0,56 persen.
Deflasi tertinggi tercatat di Tanjungpandan sebesar -2,08 persen. Deflasi tersebut disumbang dari harga komoditas ikan kerisi dengan andil deflasi 0,58 persen, ikan selar dan ikan kude 0,4 persen dan minyak goreng 0,26 persen.
Sedangkan deflasi terendah terjadi di Palembang, Palangkaraya dan Tarakan. Masing-masing mengalami deflasi -0,01 persen.
Adapun wilayah yang mengalami inflasi tertinggi yakni Kupang sebesar 0,65 persen. Inflasi ini disebabkan harga komoditas dari ikan kembung sebesar 0,17 persen, kangkung 0,15 persen dan sawi hijau 0,1 persen. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Tanjung Selor sebesar 0,01 persen.
Gambaran Inflasi Meningkat
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jika dilihat dari series inflasi tahunan, secara umum grafik inflasi masih menunjukkan adanya gambaran yang meningkat. Terutama pada sejumlah komoditas dasar seperti minyak goreng hingga LPG.
"Jadi kalau kita lihat andil inflasi sebesar 2,06 persen ini adalah minyak goreng. Kalau tahunan minyak goreng masih menunjukkan inflasi 0,20 persen andilnya," terang Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto, Selasa (1/3).
"Kemudian ada rokok kretek, bahan bakar rumah tangga, tarif angkutan udara, serta sewa rumah," papar dia.
Setianto mengatakan, jika dilihat menurut komponen, indeks konsumen secara tahunan juga masih menunjukkan inflasi, baik itu untuk inti, harga diatur pemerintah, maupun harga bergejolak. "Kalau kita bagi menurut bahan makanan, energi dan lainnya, ini juga masih menunjukkan inflasi," ujar dia.
Merujuk data BPS, andil inflasi terbesar secara tahunan berasal dari perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tanggal yang menyumbang angka 3,40 persen. Secara bulanan, sektor tersebut juga menyumbang inflasi 0,03 persen.
Untuk kelompok pengeluaran makanan, minuman dan tembakau juga mengalami inflasi year on year 2,51 persen. Meskipun secara bulanan terjadi deflasi -0,22 persen.
Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Sumber: Liputan6.com
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya