Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Bos Pertamina: Harga gas elpiji 12 Kg akan terus naik

Bos Pertamina: Harga gas elpiji 12 Kg akan terus naik tabung elpiji. ©2013 Merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Sepekan terakhir, pemerintah dan PT Pertamina terus dihujani kritik pedas seputar kebijakan menaikkan harga gas elpiji ukuran 12 Kg atau elpiji nonsubsidi. Kebijakan ini lahir dari salah satu rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Sebab, dari hasil audit BPK, selama 2009-2012 Pertamina menanggung kerugian sebesar Rp 7,7 triliun dari bisnis penyediaan gas untuk konsumsi dalam negeri.

Kerugian terjadi karena Pertamina menjual gas non-subsidi di bawah harga keekonomian. Pertamina memang berhak menaikkan harga elpiji 12 Kg mengingat barang tersebut bukan komoditas yang disubsidi pemerintah. Perseroan telah mengirim surat sebanyak delapan kali ke pemerintah untuk meminta restu menaikkan harga elpiji 12 Kg, namun tak ditanggapi. Akhirnya Pertamina memutuskan menaikkan harga gas elpiji 12 Kg sebesar Rp 3.959 per kg mulai 1 Januari 2014.

Tak lama setelah itu, hujan kritik mengalir deras. Pemerintah pun kena imbasnya karena dinilai membiarkan Pertamina menaikkan harga gas yang bakal semakin memberatkan masyarakat. Pemerintah dan Pertamina pun menggelar rapat marathon mulai dari di kediaman Wakil Presiden Boediono hingga di Bandara Halim Perdanakusuma. Terakhir, pemerintah dan Pertamina berkonsultasi dengan BPK soal kebijakan kenaikan harga gas elpiji 12 Kg.

Pemerintah dan Pertamina tidak membatalkan kenaikan harga gas elpiji, namun merevisi besaran kenaikan dari semula Rp 3.959 per Kg menjadi hanya Rp 1.000 per Kg. Harga gas elpiji 12 Kg tetap naik. "Dengan demikian, harga per tabung Elpiji non subsidi 12 Kg di tingkat agen menjadi berkisar antara Rp 89.000 hingga Rp 120.100," jelas Dirut Pertamina Karen Agustiawan , kemarin.

Kementerian Keuangan kesal harga jual elpiji 12 Kilogram (Kg) tidak sesuai harga keekonomian. Pasalnya, Pertamina harus menanggung rugi akibat bisnis ini yang pada akhirnya mengurangi sumbangan pemasukan ke negara. Menteri Keuangan Chatib Basri menyebut, dari total 100 persen konsumen elpiji, ada sebanyak 83 persen menggunakan tabung gas kemasan 3 Kg dan hanya 17 persen yang menggunakan elpiji 12 Kg.

Setelah drama naik turunnya besaran kenaikan harga gas elpiji, persoalan tidak selesai begitu saja. Selama harga jual gas elpiji 12 Kg tidak sesuai dengan harga keekonomian, Pertamina akan terus mengalami kerugian. Jika tidak ingin terus merugi, harga gas elpiji non-subsidi harus disesuaikan dengan harga keekonomian.

Apakah ke depannya Pemerintah dan Pertamina bakal kembali menaikkan harga gas elpiji 12 Kg? "Kalau (kenaikan harga) susulan hanya langit yang tahu," kata Menteri BUMN Dahlan Iskan di Gedung BPK.

Berbeda dengan Dahlan, Pertamina justru yakin harga Elpiji kemasan 12 Kilogram (Kg) di waktu mendatang akan tetap naik. Sebab barang ini bukan merupakan komoditas yang mendapat subsidi. "Elpiji 12 Kg ini bukan barang yang disubsidi, sehingga harus mengikuti harga pasar," ujar Karen.

Karen mengatakan, harga jual Elpiji Indonesia saat ini masih berpatokan pada harga CP Aramco. Sehingga, menurut dia, jika terjadi gejolak harga di tingkat dunia, bukan tidak mungkin Pertamina akan mengubah harga.

Namun demikian, Karen mengatakan, Pertamina tidak akan mengubah harga secara sepihak. Menurut dia, pihaknya akan tetap patuh pada kebijakan yang diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). "Kenaikan tetap harus melalui RUPS," terang Karen.

Karen yakin RUPS tidak akan menjerumuskan Pertamina menjadi perusahaan yang gagal. "Tentunya RUPS akan melihat kondisi perusahaan yang sudah berkeinginan menjadi besar," pungkas dia.

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP