Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Bos BI klaim defisit transaksi berjalan RI masih sehat

Bos BI klaim defisit transaksi berjalan RI masih sehat Agus Martowardojo. ©2013 Merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Neraca Perdagangan Indonesia mengalami defisit yang cukup tajam pada April 2018 yaitu sebesar USD 1,63 miliar. Namun hal tersebut dinilai tidak akan memperparah defisit transaksi berjalan.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo mengatakan, ‎jika melihat neraca perdagangan pada April kemarin, baik ekspor maupun impor memang sama-sama mengalami kenaikan. Namun kenaikan impor jauh lebih besar ketimbang ekspor.

"Kita lihat memang dari neraca perdagangan kemarin, ekspor naik. Ekspor naik itu juga banyak didukung oleh produk-produk manufaktur. Tapi naiknya hanya 9 persen, sedangkan naiknya impor itu bisa sampai 34 persen. Tapi kita paham naiknya impor juga ada faktor harga minyak yang naik, ada faktor kita musti impor pangan dan itu menyebabkan tekanan," ujar dia di Kantor BI, Jakarta, Jumat (18/5).

Dia mengatakan, tingginya pertumbuhan impor ini sebenarnya juga bukan suatu hal yang negatif. Sebab, ini menunjukkan jika ekonomi Indonesia tengah berjalan ke arah perbaikan.

"Kami melihat ini bagian kalau ekonomi Indonesia membaik. Kita juga melihat impor yang tinggi adalah untuk kegiatan produktif, untuk kegiatan-kegiatan infrastruktur kita itu membutuhkan impor dari mesin ataupun komponen-komponen untuk infrastruktur. Itu membuat tekanan di impor," kata dia.

Sementara jika dilihat dampaknya terhadap neraca transaksi berjalan, memang defisitnya mengalami peningkatan. Namun peningkatan ini masih lebih rendah ketimbang posisi defisit transaksi berjalan pada kuartal akhir tahun lalu.

"Kami melihat bahwa Indonesia sudah keluarkan hasil dari balance of payment kita, dan kita lihat bahwa transaksi berjalan itu memang defisit dan meningkat menjadi 2,15 persen dari GDP. Tapi dibandingkan kuartal IV 2017 itu turun, karena di kuartal IV itu 2,3 persen dari GDP," ungkap dia.

Namun Agus menyatakan, jika defisit transaksi berjalan ini masih sehat. Sebab masih berada di bawah 3 persen dari GDP.

"Kita melihat bahwa neraca transaksi berjalan masih akan sehat dan kita perkirakan masih akan ada di kisaran 2 persen-2,5 persen dari GDP sepanjang 2018.‎ Dan kita meyakini kalau transaksi berjalan itu di bawah 3 persen dari GDP itu masih sehat. Kita harus kelola," tandas dia.

Reporter: Septian Deny

Sumber: Liputan6.com

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP