Bos BI beberkan penyebab Rupiah anjlok mendekati Rp 14.000 per USD
Merdeka.com - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) terus mengalami pelemahan beberapa minggu ini. Bahkan, Rupiah sempat menyentuh level Rp 13.972 per USD hari ini, Selasa (24/4).
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan pelemahan Rupiah ini dipicu oleh meningkatnya yield US treasury bills mendekati level psikologis 3 persen dan munculnya kembali ekspektasi kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) sebanyak lebih dari 3 kali selama 2018.
"Kenaikan yield dan suku bunga di AS itu sendiri dipicu oleh meningkatnya optimisme investor terhadap prospek ekonomi AS seiring berbagai data ekonomi AS yang terus membaik dan tensi perang dagang antara AS dan China yang berlangsung selama tahun 2018 ini," kata Agus dikutip situs resmi BI, Jakarta, Selasa (24/4).
Sejalan dengan itu, pada Senin kemarin semua mata uang negara maju kembali melemah thd USD, antara lain Jepang JPY -0,25 persen, Swiss CHF -0,27 persen, Singapur SGD -0,35 persen, dan Eropa EUR -0,31 persen. Dalam periode yang sama, mayoritas mata uang negara emerging market, termasuk Indonesia, juga melemah.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah (IDR) sesuai fundamentalnya, Bank Indonesia telah melakukan intervensi baik di pasar valas maupun pasar SBN dalam jumlah cukup besar. Selain itu, BI juga akan terus memonitor dan mewaspadai risiko berlanjutnya tren pelemahan nilai tukar rupiah, baik yang dipicu oleh gejolak global maupun yang bersumber dari kenaikan permintaan valas oleh korporasi domestik
"Untuk itu, Bank Indonesia akan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah sesuai fundamentalnya," jelasnya.
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya