Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Bos BEI dan BI kompak dukung Sri Mulyani putus kontrak JP Morgan

Bos BEI dan BI kompak dukung Sri Mulyani putus kontrak JP Morgan JK buka pasar saham 2017. ©2017 Merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman

Merdeka.com - Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mengaku sangat terganggu dengan hasil riset oleh JP Morgan Chase Bank. Sebab, hasil riset mereka telah mengganggu stabilitas sistem keuangan nasional.

"Terus terang saya terganggu. Itu tidak betul. Kita jadi buang waktu untuk membela diri, untuk menerangkan. Saya mendukung keputusan Bu Ani (Menteri Keuangan) pasti," katanya di gedung BEI, Jakarta, Rabu (3/1).

Dirinya mengatakan tidak terlalu khawatir dengan hasil riset JP Morgan ini. Pasalnya, saat ini sudah memasuki era keterbukaan informasi dan investor bisa mudah mendapat informasi mengenai kondisi perekonomian Indonesia.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan usai keputusan ini secara otomatis JP Morgan Chase Bank tidak dapat melakukan pembayaran dana Tax Amnesty dan akan diahlikan ke bank persepsi lain. Dia tidak khawatir pada pemutusan kontrak ini karena masih banyak bank persepsi lain.

"Cukup banyak masih bank persepsi, bank yang bisa terima dan salurkan pajak jadi ada kurang lebih 70 bank persepsi," ujar Agus.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku punya alasan sendiri dalam memutus kontrak dan mencoret JP Morgan Chase Bank dalam Bank Persepsi program Tax Amnesty. Menurutnya, keputusan pencoretan tersebut sudah melalui evaluasi yang sangat panjang.

JP Morgan diputus kontraknya usai mengeluarkan rilis menurunkan peringkat surat utang Indonesia sebanyak dua tingkat. Peringkat surat utang Indonesia turun dari overweight menjadi underweight.

"Kami melakukan evaluasi. Pemerintah, Kementerian Keuangan terutama kami terus menerus akan melakukan hubungan kerja sama dengan seluruh stakeholder berdasarkan prinsip profesionalisme, akuntabilitas, bertanggung jawab, termasuk kualitas dari keseluruhan hasil kerjanya dan terutama kalau kerja sama harus saling menguntungkan," ujarnya.

Sri Mulyani menegaskan, semakin besar nama sebuah lembaga riset maka semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menjaga kualitas dari hasil risetnya tersebut. Sementara, JP Morgan dianggap tidak menjaga kredibilitas dan akurasi dari risetnya untuk Indonesia.

"Semakin besar namanya, dia semakin memiliki tanggung jawab lebih besar dari sisi kualitas dan kemampuan untuk ciptakan konfiden," imbuh dia.

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP