BKPM dorong penguatan substitusi impor dan orientasi ekspor
Merdeka.com - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melakukan pengawasan dari nilai strategis dari pengawalan realisasi investasi 200 perusahaan tersebut. Adanya potensi nilai substitusi impor sebesar USD 634 juta dan nilai ekspor sebesar USD 15,2 miliar.
Ketua BKPM Franky Sibarani merinci potensi tersebut diperoleh dari 200 perusahaan tersebut. Dari total 59 perusahaan yang sudah selesai konstruksi dan siap untuk produksi komersil, potensi nilai subsitusi impor mencapai USD 453 juta dan potensi nilai ekspor sebesar USD 7,1 milliar. Sedangkan nilai subsitusi impor dari perusahaan yang saat ini masih dalam tahap konstruksi sebanyak 141 perusahaan sebesar USD 181 juta dan potensi nilai ekspor sebesar USD 8,1 miliar.
"Potensi nilai subsitusi impor dan rencana ekspor yang dapat meningkatkan perekonomian Indonesia sehingga kami terus mengawal proyek konstruksi perusahaan tersebut. Hal ini sejalan dengan rencana pemerintah untuk dapat mengurangi impor dan memanfaatkan barang–barang produksi dalam negeri selain tetap meningkatkan ekspor," ujar Franky di kantornya, Jakarta, Rabu (2/3).
Franky menjelaskan beberapa perusahaan juga akan membangun pembangkit tenaga listrik sendiri, dengan rencana akan menghasilkan listrik sebesar 4.190 MW. Sebagian besar akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan, namun ada juga perusahaan yang bekerjasama dengan PLN skema Power Purchase Agreement.
"Selain itu, beberapa perusahaan juga akan menjual listrik melalui PPA dengan PLN, sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus," jelas dia.
Beberapa poin penting tersebut merupakan bagian dari program-program yang telah diluncurkan oleh BKPM dalam rangka membantu penanaman modal merealisasikan proyeknya.
Beberapa program di awal tahun yang sudah diluncurkan oleh BKPM diantaranya adalah Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi (KLIK) serta layanan Izin investasi tiga jam yang bertujuan untuk untuk memberikan kepastian dan kemudahan bagi para calon investor potensial.
"BKPM akan terus bekerjasama dengan kementerian ataulembaga terkait untuk dapat menganalisis hambatan dan permasalahan yang dihadapi perusahaan, untuk kemudian mencari opsi terbaik penyelesaiannya. Di era persaingan saat ini, kami tentu tidak bisa berpuas diri, kami selalu berinovasi atas program-program yang mendukung investasi maupun mengurangi hambatan investasi seperti mengurangi perizinan untuk berinvestasi," tutup Franky.
(mdk/sau)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya