BKF: Dunia Hadapi Pemulihan Ekonomi yang Tidak Merata
Merdeka.com - International Monetary Fund (IMF) memprediksi pertumbuhan ekonomi global capai 6 persen tahun ini. Sedangkan di 2022, ekonomi global diperkirakan bisa tumbuh 4,9 perse.
Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, menilai solidnya proyeksi perekonomian global didukung oleh tambahan stimulus fiskal yang kuat dan akselerasi vaksinasi yang memungkinkan re-opening lebih luas. Khususnya di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa. Sejalan dengan hal tersebut, volume perdagangan global juga diprediksi mencatatkan kinerja yang solid.
"Pada tahun 2021 diprediksi volume perdagangan global mengalami pertumbuhan sebesar 9,7 persen (naik 1,3 pp)," kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Febrio Kacaribu dalam keterangan persnya, Jakarta, Rabu (28/7).
Pertumbuhan yang kuat pada aktivitas perdagangan menunjukkan sektor eksternal juga menjadi faktor utama yang mendorong tumbuhnya ekonomi global. Namun, dunia harus mewaspadai risiko penyebaran varian Delta Covid-19 yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir serta menjaga efektivitas stimulus dan mendorong akses vaksinasi yang adil dan merata.
Meski demikian, pemulihan ekonomi global terjadi secara tidak merata (uneven recovery). Hal ini disebabkan oleh perbedaan situasi pandemi Covid-19, kecepatan vaksinasi, dan dukungan stimulus ekonomi.
Secara garis besar, kelompok negara maju mengalami kenaikan proyeksi didukung perluasan re-opening. Jangkauan vaksinasi yang tinggi, serta stimulus yang masif. Misalnya seperti yang terjadi pada Amerika Serikat yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2021 naik 0,6 pp. Zona Euro juga naik 0,2 pp dan Korea Selatan naik 0,7 pp.
Sementara itu, banyak negara berkembang yang mengalami penurunan proyeksi. Utamanya akibat pemberlakuan restriksi lebih ketat di tengah penyebaran varian Delta.
Tingkat vaksinasi yang relatif rendah di negara berkembang juga dianggap memberikan risiko kerentanan terhadap kesinambungan pemulihan ekonomi ke depan. Beberapa negara yang mendapat revisi ke bawah antara lain India (-3,0 pp), Malaysia (-1,8 pp), Filipina (-1,5 pp), Thailand (-0,5 pp) dan Indonesia (-0,4 pp). Khusus untuk India, IMF masih memproyeksikan tumbuh antara 3,7 persen sampai 4,5 persen.
"Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari IMF untuk tahun 2021 yakni 3,9 persen masih dalam rentang proyeksi Pemerintah pada 3,7 persen sampai dengan 4,5 persen," kata dia.
Tingginya Ketidakpastian
Selain itu, risiko dan ketidakpastian dinilai masih sangat tinggi. Kehadiran varian Delta yang sangat menular membayangi upaya pengendalian pandemi dan pemulihan ekonomi di banyak negara.
WHO melaporkan varian ini telah menyebar di 124 negara dan bahkan menjadi varian yang mendominasi di berbagai negara, seperti Indonesia, Inggris, Rusia, Malaysia, Thailand, dan Afrika Selatan. Sehingga banyak negara kembali melakukan pengetatan aktivitas atau menunda reopening dalam rangka mengendalikan lonjakan kasus yang terjadi.
Langkah antisipasi lainnya yang dilakukan antara lain dengan terus memperkuat testing dan mengakselerasi vaksinasi. Selain dari kehadiran varian Delta, perekonomian global juga perlu terus waspada terhadap kemungkinan percepatan normalisasi kebijakan moneter AS sebagai implikasi dari pemulihan ekonomi yang cepat. Ini bisa berakibat mendorong pembalikan arus modal menuju negara tersebut.
Dalam menghadapi ini, Indonesia akan terus mengambil manfaat dari prospek ekonomi global yang masih kondusif, sembari terus mewaspadai risiko-risiko yang ada. Permintaan produk ekspor yang diperkirakan masih baik seiring solidnya outlook pertumbuhan global menjadi peluang untuk terus mendorong kinerja manufaktur di 2021.
"Untuk itu, strategi Indonesia ke depan akan terus fokus pada upaya pengendalian pandemi, melindungi kesejahteraan masyarakat dan mendorong pemulihan ekonomi nasional, serta terus meningkatkan daya saing" kata dia mengakhiri.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya