Bisnis sektor properti dibayangi fenomena latah dan kejenuhan
Merdeka.com - Perkembangan masa depan bisnis properti di tanah air dibayangi ancaman kejenuhan pasar. Ini berpotensi terjadi karena pengembang cenderung latah membangun proyek-proyek propertinya sehingga terjadi kelebihan penawaran.
Direktur Executive Indonesia Properti Watch, Ali Tranghanda menceritakan, pada 2010 sudah diprediksi siklus pasar properti bakal mengalami perlambatan di 2014. Terbukti, kata dia, perlambatan benar-benar terjadi. Salah satunya karena harga properti semakin meroket.
"Harga sudah terlalu tinggi selama 3-4 tahun, aksi peningkatan di Indonesia 2009 sampai 2013 sehingga ada latahnya konsumen. Dipikiran konsumen latahnya di Indonesia," ujarnya di Hotel JW Luwansa, Jakarta, Rabu (3/12).
Namun tidak semua lokasi mengalami perlambatan. Beberapa wilayah justru menunjukkan peningkatan seiring jenuhnya pasar properti di wilayah Jabodetabek.
"Seperti terlihat maraknya pengembangan apartemen menengah yang sangat banyak memasuki wilayah Serpong dan Bekasi. Semua pengembang mengklaim mempunyai pasar yang potensial, namun perlu kehati-hatian dari konsumen ketika pasokan semakin banyak sedangkan pasar tidak bertumbuh seperti yang diharapkan," jelas dia.
Ali menjelaskan, fenomena maraknya pembangunan apartemen di Serpong dikarenakan harga tanah semakin tinggi di wilayah ini. Alhasil, pengembang lebih memilih membangun hunian vertikal demi optimalisasi lahan. Pasokan untuk rumah mewah pun semakin terbatas karena harga sudah mencapai titik jenuh.
Kejenuhan pengembang juga terlihat di sektor perhotelan, terutama di Bali. Semakin banyak investor berlomba-lomba membangun hotel. Akibatnya, harga tanah terkerek naik dan semakin tinggi.
Namun kondisi ini ternyata tidak menyurutkan investor membangun hotel. Padahal secara investasi dipertanyakan kelayakannya. Terutama karena harga tanah yang sudah membumbung tinggi.
Pasar properti di Indonesia Timur masih memiliki secercah harapan. Bisnis properti di kawasan ini justru menunjukkan perkembangan, mengejar ketinggalannya dari wilayah Barat. Sebut saja Surabaya dan Makassar yang masih berpeluang untuk sektor komersial.
"Namun tentunya ketika sebuah wilayah mempunyai potensi, maka biasanya fenomena latah akan kembali muncul dengan banyaknya investor yang ikutan masuk ke sektor yang sama di wilayah yang sama. Waspada akan batasan limitasi pasar seharusnya menjadi pertimbangan sehingga pasar properti lebih sehat dan solid," ungkapnya. (mdk/noe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya