Bisnis gas Pertamina dinilai berpotensi rugikan negara
Merdeka.com - Penerapan bisnis jual beli gas yang dilakukan PT Pertamina (Persero) berpotensi merugikan negara. Praktik ini menciptakan trader bertingkat sehingga muncul bisnis gas yang tidak sehat.
Koordinator Divisi Monitoring dan Analisis Anggaran Indonesia Corruption Watch (ICW) Firdaus Ilyas mengatakan pola bisnis tersebut menjadikan rantai distribusi gas yang panjang akan menimbulkan inefisiensi dan praktik rente.
"Semakin panjang rantai distribusi maka semakin mahal harga yang sampai ke pengguna. Dampak ke penerimaan negara juga semakin berkurang, karena margin sudah diambil para trader," ujar Firdaus di Jakarta, Rabu (4/11).
Firdaus menegaskan saat ini jalur distribusi gas dikuasai trader. Padahal, kata dia, mereka tidak punya infrastruktur sama sekali.
"Ke konsumen mahal, negara tidak mendapat maksimal. Padahal ini sektor energi primer, ujungnya juga bisa menambah laju inflasi. Industri juga seperti industri baja, petrokimia, keramik dirugikan karena harga gas jadi mahal akibat ulah trader," pungkas dia.
Sebelumnya, pola penjualan gas yang dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) melalui sejumlah anak usahanya, seperti PT Pertamina EP dan PT Pertagas yang melibatkan sejumlah trader.
Manajemen Pertamina disinyalir menjadi penyebab tingginya harga gas di pasaran. Selain itu, pola yang diterapkan perusahaan migas pelat merah dalam bisnis gas tersebut menyebabkan munculnya trader gas bertingkat.
Dalam dokumen 'Pengaturan Harga Gas' yang dikeluarkan BPH Migas pada Oktober 2015, mencontohkan praktek trader gas bertingkat yang membuat harga gas di konsumen sangat tinggi.
Praktik trader gas bertingkat itu menyebabkan tidak bisa dilakukan kontrol terhadap selisih harga gas dari pasok (harga gas hulu) dengan harga gas di konsumen.
(mdk/sau)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya