Biaya sewa toko tinggi, industri ritel melemah di 2016
Merdeka.com - Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (DPP HIPPINDO) melaporkan raport merah untuk pertumbuhan industri ritel di tahun 2016. Hal ini disebabkan karena beban biaya sewa dan biaya service charge yang sangat tinggi saat ini.
Ketua Umum DPP HIPPINDO Budihardjo Iduansjah, menjelaskan salah satu kontribusi biaya yang terbesar dan membebani peritel adalah kenaikan biaya service charge yang bisa mencapai 30 persen. Belum lagi beban biaya sewa yang bisa naik puluhan persen bahkan bisa Iebih dari 100 persen.
"Sewa dan service charge pusat belanja juga ada kontribusi kerena banyak yang menaikkan harga sewa sangat tinggi. Jangan dibebani lagi servis dll. Bila perlu dinaikkan maksimal inflasi maksimal 5 persen berat Tapi kalau lebih memberatkan," ujar Budihardjo di Jakarta, Selasa (17/1).
Menurutnya, biaya-biaya tersebut meningkat juga karena disebabkan oleh kenaikan UMP. Akibatnya, ritel pun akhirnya akan menaikkan harga jual ke konsumen, sehingga daya beli masyarakat menurun.
"Pada akhirnya peritel tidak mampu menutup biaya operasionalnya dan akan berakibat dengan penutupan toko dan PHK," ujarnya.
Untuk itu, pihaknya meminta kepada pemerintah memberikan perhatian mengenai hambatan di sektor ritel ini dengan segera menerbitkan aturan di Indonesia.
Seperti halnya di negara-negara lain yang telah menerapkan regulasi yang mengatur hubungan Pengelola Pusat Belanja dengan para tenantnya. Sehingga tercipta hubungan yang berimbang antara Pengelola Pusat Belanja dengan para tenantnya agar dapat bersinergi demi mendukung Perekonomian Nasional.
"Apabila industri ritel terpuruk maka akan mengganggu perekonomian nasional. Untuk Itu kami sangat mengharapkan perhatian dari pemerintah," pungkasnya.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya