BI soal nilai tukar merosot: Jangan lihat Rupiah saja, bandingkan dengan negara lain
Merdeka.com - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) masih melemah pada perdagangan hari ini, Jumat (24/8). Rupiah tercatat secara fluktuatif berada pada angka Rp 14.660 per USD, angka ini hampir sama dengan pergerakan Rupiah pada hari sebelumnya di Rp 14.620 per USD.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengungkapkan, pelemahan Rupiah kali ini masih disebabkan oleh kondisi gejolak perekonomian dunia. Meski begitu, mata uang Garuda tersebut masih relatif terkendali apabila dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya.
"Kalau kita lihat masalah stabilisasi nilai tukar, jangan liat Rupiah-nya sendiri. Bandingkan dengan negara lain juga, gonjang-ganjingnya kan seluruh dunia kena," ujarnya dalam konferensi pers di Gedung Kementerian Perekonomian, Jakarta, Jumat (24/8).
Perry mengatakan, dalam kondisi ini juga Rupiah tidak serta merta hanya dilihat dari nominalnya saja, melainkan tingkat persentase depresiasi. Di mana depresiasi Rupiah juga dinilai jauh lebih rendah dari negara-negara lain.
Dia menyebutkan, hingga hari ini Rupiah terdepresiasi 7 persen. Lebih rendah dari Rupee India yang 9 persen, Rand Afrika Selatan sekitar 13,7 persen, dan Real Brasil yang 18,2 persen. "Bahkan (Peso) Argentina dan (Lira) Turki yang terdepresiasi hingga dekati 40 persen," imbuhnya.
Meski demikian, sejumlah langkah telah diambil oleh bank sentral untuk meredam pelemahan Rupiah. Salah satunya dengan kebijakan moneter, menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis points pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan Agustus.
"Dari BI menaikkan suku bunga acuan supaya terjadi inflow (arus dana asing masuk). Sekarang inflow sudah mulai kembali, pembelian SBN khususnya long term investor sudah mulai masuk. Kemudian eksportir menjual Dolar-nya," jelasnya.
Di sisi lain, BI juga terus melanjutkan intevensi ganda yakni dipasar valuta asing (valas) maupun di pasar Surat Berharga Negara (SBN). "Selain itu swap rate juga kami permudah, percepat, dan murah. Setiap hari eksportir dan pengusaha bisa memastikan kebutuhan valas maupun Rupiah (ke BI)," pungkasnya.
Diketahui, pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia memutuskan untuk menaikkan Bank Indonesia (BI) 7-day Reverse Repo Rate atau suku bunga acuan sebesar 25 basis point (bps) menjadi 5,50 persen.
"Rapat Dewan Gubernur BI pada 14-15 Agustus 2018 memutuskan untuk menaikkan BI 7-day repo rate sebesar 25 bps menjadi 5,5 persen," ujar Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, di Kantor BI.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya