BI: Pelemahan Rupiah usai Pemilu tak perlu disikapi berlebihan
Merdeka.com - Bank Indonesia (BI) menganggap wajar jika nilai tukar Rupiah merosot pasca pemilihan legislatif kemarin. Alasannya, pelaku pasar masih menunggu kepastian perkembangan politik nasional, termasuk siapa partai yang bakal mendampingi partai pemenang.
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan melemahnya kembali pasar keuangan bukan merupakan hal yang perlu disikapi secara berlebihan.
"Namanya juga pasar keuangan kalau menguat sedikit melemah sedikit hal yang biasa. Kemarin sebelum pemilu menguat, setelah pemilu profit taking, tidak ada yang luar biasa dan tidak perlu dikhawatirkan," ujarnya di Gedung BI, Jakarta, Jumat (11/4).
Dalam pandangannya, hal yang paling penting saat ini adalah menjaga fundamental perekonomian nasional tetap baik.
"Yang penting angka-angka fundamental ekonomi kita cukup baik, neraca perdagangan Februari kan surplus, Maret mudah-mudahan surplus, inflasi April biasanya turun karena musim panen biasanya terjaga dengan baik jadi sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan. Rupiah menguat dan melemah sedikit hal yang biasa," jelas dia.
Dia menegaskan, pasar keuangan bergerak berdasarkan ekspektasi. Pelaku pasar masih dalam posisi wait and see.
"Nanti setelah tanggal 9 Juli sudah lebih jelas, kemudian mereka mencerna. Kita sudah reformasi sejak 1999, 2004, 2009 dan terus berlanjut. Jadi, pasar keuangan melihat apakah reformasi akan berlanjut atau dipercepat, itu yang membuat mereka antusias, nanti mereka mencerna koalisi gimana, hal yang biasa," ungkapnya.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya