Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

BI Pastikan Kondisi Perbankan di Indonesia Masih Positif

BI Pastikan Kondisi Perbankan di Indonesia Masih Positif pertumbuhan ekonomi. ©2019 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter (DKEM) Bank Indonesia (BI) Firman Mochtar memastikan, kondisi perbankan di Indonesia masih kuat. Hal ini menanggapi tutupnya 3 bank raksasa di Amerika Serikat (AS), yakni Silicon Valley Bank, Silvergate Bank dan Signature Bank.

"BI tetap akan mencermati dampaknya. Terutama mewaspadai pengaruh ekspektasi yang bisa mempengaruhi kegiatan ekonomi, khususnya di jalur finansial," kata Friman, Minggu (19/3).

Tercatat, dari sisi permodalan perbankan kuat dengan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio /CAR) sebesar 25,88 persen pada Januari 2023. Sementara itu dari sisi risiko kredit juga terkendali, tercermin dari rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan /NPL) yang rendah 2,59% (bruto) dan 0,76 persen (neto) pada Januari 2023.

Likuiditas perbankan pada Februari 2023 terjaga didukung oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 8,18 persen (yoy). Untuk itu, BI melakukan studi uji hingga stress test menarik seberapa kuat ketahanan ekonomi dalam negeri dari berbagai indikator.

"Kita memang ingin membangun ekspektasi baik sejak awal. Jika semua panik makan akan bermasalah. Semua menjadi perhatian Pemerintah dalam memitigasi impact secara berlebihan, dan penempatan dana ke negara berkembang termasuk Indonesia. Dari sisi moneter tentu terus mitigasi di pergerakan rupiah maupun pasar valas," imbuhnya.

Firman juga memastikan bahwa penutupan 3 bank AS tidak berpengaruh besar ke Indonesia. "Kami memandang dampak rambatannya tidak besar karena eksposur kita ke sana enggak banyak," tandasnya.

Sebelumnya, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) Maret 2023 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reserve Repo Rate (BI7DRR) di level 5,75 persen. Suku bunga Deposit Facility juga tetap pada level 5,00 persen, dan suku bunga Lending Facility ada di 6,50 persen.

"Rapat Dewan Gubernur BI pada 15 sampai 16 Maret memutuskan mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) pada level 5,75 persen," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers di Kantornya, Kamis (16/3).

Keputusan ini tetap konsisten dengan stance kebijakan moneter pre-emptive dan forward looking untuk memastikan terus berlanjutnya penurunan ekspektasi inflasi dan inflasi ke depan.

Bank Indonesia meyakini, penetapan suku bunga acuan 5,75 persen ini memadai untuk memastikan inflasi inti tetap berada dalam kisaran 3,0 plus minus 1 persen pada semester I 2023. Sehingga, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) kembali ke dalam sasaran 3,0 plus minus 1 persen pada semester II 2023.

(mdk/azz)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP