BI dan Pemerintah Putar Otak Cari Cara Genjot Industri Manufaktur
Merdeka.com - Industri manufaktur menjadi salah satu pilar penting dalam laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Oleh sebab itu, mendorong industri ini agar semakin maju menjadi sebuah keharusan agar perekonomian yang diharapkan dapat tercapai.
Untuk mewujudkan semua itu, Pemerintah dan Bank Indonesia serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar rapat koordinasi penguatan industri manufaktur. Industri ini diharapkan mampu meningkatkan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.
"Rakorpusda menyepakati strategi pengembangan industri manufaktur yang dilakukan secara terkoordinasi, terintegrasi, dan berkelanjutan," kata Gubernur BI Perry Warjiyo usai rapat di Gedung BI, Jakarta, Rabu (4/9).
Perry menjelaskan, langkah tersebut harus didukung keterlibatan aktif pelaku industri. Sementara itu, fokus pengembangan produk dimulai pada industri otomotif, tekstil & produk tekstil (TPT), dan alas kaki, serta industri lainnya yang mendukung pengembangan produk-produk di industri tersebut.
"Pengembangan juga dilakukan dengan memastikan integrasi pembangunan antarkawasan yang sesuai dengan keterkaitan produk yang menjadi fokus, antara lain di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten dan Sumatera Selatan," ujarnya.
Rapat tersebut dihadiri oleh banyak pejabat, mulai dari menteri hingga kepala daerah. Hadir diantaranya Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Pejabat Kemenkeu, Pejabat KemenPUPR, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, serta jajaran dewan komisioner OJK.
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan industri manufaktur nasional yang lesu menjadi salah satu penghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Akibatnya, angka pertumbuhan ekonomi selalu tertahan di level kisaran 5 persen setiap tahunnya. Di tahun ini target pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai angka 5,2 persen.
Deputi Gubernur BI, Dody Budi Waluyo menyebutkan pertumbuhan sektor manufaktur nasional di kuartal II-2019 hanya tumbuh di kisaran 3,62 persen. Angka tersebut dinilai terlalu kecil, bahkan hanya separuh dari pertumbuhan normal sektor manufaktur yang seharusnya 6 persen-7 persen.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat realisasi pertumbuhan di kuartal II-2019 itu melambat dibandingkan kuartal II-2018 yang tumbuh 4,36 persen. Pada periode yang sama pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,05 persen, melambat dari kuartal II-2018 yang sebesar 5,27 persen yoy.
"Tidak salah kalau ekonomi kita akan tumbuh diskisaran hanya sekitar 5 persen untuk di tahun 2019 ini. Jadi ini tantangan yang besar bagaimana kita bisa dorong sektor manufaktur untuk terus tumbuh," kata dia, dalam acara seminar nasional terkait pengembangan industri dalam negeri di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (4/9).
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya