BI beberkan dampak anjloknya harga minyak dunia di Indonesia
Merdeka.com - Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juda Agung angkat bicara terkait anjloknya harga minyak dunia hingga menyentuh titik terendah dalam 12 tahun terakhir. Kondisi ini dipercaya akan menekan inflasi dalam negeri. Selain itu, rendahnya harga minyak membuka peluang pelonggaran kebijakan moneter dalam negeri.
"Dengan adanya penurunan harga minyak inflasi akan lebih rendah, ruang fiskal kita makin lebar. Ini tentu saja dengan asumsi pemerintah secara konsisten kalau harga minyak turun maka akan menurunkan harga BBM," ujar di Hoteng Shangri-La, Jakarta, Rabu (20/1).
Menurutnya, dampak penurunan harga minyak dunia akan memberatkan China, terutama dinamika dari pergerakan saham. Kemudian hal ini juga akan berdampak pada Indonesia yaitu menekan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika (USD). Anjloknya harga minyak akan membuat laju USD semakin kuat.
"Kami melihat resiko paling besar saat ini dari China, karena pergerakan saham implikasinya nilai tukar Yuan kita sulit prediksi," jelas dia.
Di sisi lain, inflasi Januari 2016 lebih banyak didorong oleh kenaikan harga hortikultura, telur dan daging ayam ras. "Januari itu 0,7 month to month agak sedikit naik, agak sedikit naik lagi-lagi terkait volatile food, harga BBM kan sebenarnya turun tapi volatile foodnya tinggi," ungkapnya.
Sebagaimana diketahui, pasar saham Asia bergerak melemah di tengah anjloknya harga minyak dunia di bawah USD 28 per barel, titik terendah lebih dari 12 tahun terakhir. Pasar saham Hang Seng di Hong Kong anjlok 3,8 persen di perdagangan hari ini. Sementara itu, Nikkei di Jepang juga anjlok 3 persen.
Kecelakaan harga minyak dunia semakin parah karena tingginya kekhawatiran tentang kesehatan ekonomi dunia. Investor tambah gelisah karena membanjirnya pasokan global. Belum lagi Iran sedang mempersiapkan diri untuk menjual minyak ke pasar global pada bulan mendatang.
Saham perusahaan minyak di bursa saham Hong Kong paling menderita. Saham China Sinopec, Petrochina dan CNOOC anjlok lebih dari 6 persen. CNOOC bahkan telah mengumumkan akan mengurangi produksi di tengah penurunan harga saat ini.
Informasi saja, harga minyak mentah AS menyentuh level terendah baru dalam 12-tahun terakhir yaitu di bawah USD 28 per barel di perdagangan Asia pada Rabu. Harga minyak anjlok setelah Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa pasar minyak bisa tenggelam dalam kelebihan pasokan dengan kembalinya Iran.
Patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari, sempat menyentuh titik terendah USD 27,92 per barel sebelum kembali naik. WTI diperdagangkan pada USD 27,96 per barel, turun 50 sen atau 1,76 persen, pada sekitar pukul 02.00 GMT.
Terakhir kali WTI ditutup di bawah USD 28 per barel pada September 2003.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya