BI bakal naikkan suku bunga acuan, ini kata Bos BTN
Merdeka.com - Rencana Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate dinilai dapat menekan pelemahan Rupiah terhadap Dollar AS. Namun demikian, hal tersebut dapat dilakukan apabila bank sentral sudah tidak memiliki pilihan lain.
"Kalau menurut kami itu adalah satu satunya, andai cara yang lain belum bisa dilakukan. Ya saya kira pasti akan ke arah meningkatnya suku bunga," ujar Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BTN) Maryono di Gedung BTN, Jakarta, Senin (14/5).
Pelemahan Rupiah terus terjadi dalam beberapa waktu belakangan bahkan sempat menyentuh level Rp 14.000 per USD. Bank Indonesia pun telah melakukan berbagai intervensi salah satunya dengan melepas cadangan devisa ke pasaran.
Lebih lanjut, Maryono menambahkan, pihaknya belum dapat memprediksi berapa besaran basis poin kenaikan suku bunga yang harus dilakukan agar Rupiah kembali normal. Dia mengatakan, Bank Indonesia pasti memiliki pertimbangan nilai yang tepat.
"Iya itukan policy yang akan di lakukan BI. Banyak cara yang akan dilakukan di dalam membuat suatu policy untuk antisipasi turunnya nilai Rupiah. Antara lain menaikkan bunga acuan BI rate. Tapi itu (besarannya) Bank Indonesia nanti yang tentukan," jelasnya.
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga acuan. Hal ini sebagai respons untuk mengendalikan nilai tukar Rupiah yang tengah melemah hingga tembus 14.000 per USD.
Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara mengatakan, hal tersebut akan dibahas dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar pada pertengahan bulan ini. "BI kan sudah sampaikan bahwa nanti di RDG tanggal 16-17 Mei ada RDG bulanan untuk tentukan arah kebijakan moneter," ujar dia di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (8/5).
Dalam memutuskan kenaikan suku bunga acuan, BI akan melihat data-data yang ada, mulai dari inflasi hingga pergerakan arus modal global. Kebijakan bank sentral AS juga akan dijadikan bahan pertimbangan.
"Dan BI sudah sampaikan di pers rilis bahwa BI akan melihat kepada data untuk inflasi, ekspor impor, neraca pembayaran. Tentu kita juga lihat bagaimana arus modal di dunia, kita juga lihat bagaimana arah kebijakan AS yang akan naik Juni," kata dia.
Selain itu, BI juga akan melihat bagaimana pergerakan suku bunga acuan di negara-negara lain. Diakui Mirza, saat ini sejumlah negara telah menaikkan suku bunganya sebagai respons atas kebijakan bank sentral AS.
"Juga suku bunga negara tetangga. Malaysia naik, Korea naik, Australia naik. Nanti kita akses. Kalau memang diperlukan kenaikan suku bunga ya kita harus melakukan adjusment," ungkap dia.
Dengan upaya yang dilakukan BI serta adanya langkah dari pemerintah, dia berharap nilai tukar Rupiah bisa kembali menguat, di bawah 14.000 per USD. "(Rupiah bisa di bawah 14.000?) Bisa," tandas dia.
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya