Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Beras Vietnam Ilegal, ramai-ramai membantah menerima jatah

Beras Vietnam Ilegal, ramai-ramai membantah menerima jatah Beras impor. Merdeka.com /Arie Basuki

Merdeka.com - Impor beras Vietnam yang diduga ilegal menjadi bola liar yang terus bergulir sejak pekan lalu. Namun, seperti pihak yang tidak ingin kecipratan masalah, sejumlah pedagang beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta Timur, kompak membantah dipasok beras dari negara indochina itu.

Padahal, beberapa hari sebelumnya, seorang pedagang di PBIC tiba-tiba mencegat rombongan menteri yang sedang inspeksi di sentra beras itu, untuk sekedar melapor bahwa harga beras dipasaran hancur lantaran membanjirnya beras Vietnam. Tak lupa, saat melapor, sang pedagang juga menunjukkan sampel beras impor tersebut.

Acin (52), pedagang beras di Blok K PBIC membantah ada aliran beras Vietnam. "Enggak ada kita dapat beras impor. Kurang tahu juga siapa yang jual," katanya saat ditemui merdeka.com, Selasa (28/1).

Beberapa pedagang kemudian menyebut Usaha Dagang (UD) Tunas Bangsa mengetahui peredaran beras impor tersebut. Namun, ketika ditemui, pemilik usaha tersebut membantahnya.

"Toko saya tidak jual beras impor," ucap pria yang enggan menyebut namanya tersebut.

Terlepas dari itu, ada juga pedagang yang meyakini bahwa beras Vietnam sudah beredar di PIBC sejak akhir tahun lalu. Distribusi beras impor tersebut antarpulau.

Iwan (47), pedagang di Los AA1, sudah mendengar isu penjualan beras impor tersebut di pasar induk. Para pedagang menyebutnya beras 'spanyol' alias separuh nyolong.

Dia sendiri mengaku tetap setia berdagang beras lokal, khususnya Pandan Wangi. Alasannya, beras Vietnam kualitasnya kalah dibanding beras lokal.

"Kalau dimasak anyep, mau bagaimanapun lokal punya masih lebih enak," ungkapnya.

Menurutnya, konsumen akan kesulitan membedakan beras Vietnam dengan beras lokal. Keahlian membedakan hanya dimiliki oleh pedagang beras dengan mata terlatih.

Namun, jangan sedih, Iwan memberikan sedikit tips bagi konsumen untuk membedakan. Kebanyakan beras lokal lebih kusam atau di tengah bijinya tak putih. Sebaliknya, beras impor sangat mengkilap.

"Kayak lebih dipoles, tapi itu sebenarnya karena yang impor beras muda. Selain itu, kadang ada warna merah dikit."

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan mencatat telah terjadi importasi beras sebanyak 83 kali sebanyak 19.500 ton di Pelabuhan Tanjung Priok. Pembelian beras impor itu dilakukan oleh 58 importir terdaftar yang menerima Surat Perizinan Impor (SPI) dari Kementerian Perdagangan.

Adapun jenis beras yang diimpor tersebut memiliki spesifikasi tingkat kepecahan 5 persen-25 persen. Berdasarkan Permendag No.6/2012, jenis beras semacam itu hanya boleh diimpor oleh Bulog.

(mdk/yud)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP