Bantuan CSR PLN Peduli Sambung 11.000 KK Listrik Gratis Akhirnya Rampung
Merdeka.com - PLN Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur melalui Program PLN Peduli memberikan bantuan penyambungan bagi 11.000 bantuan CSR Listrik Subsidi Gratis bagi warga yang tidak mampu. Bantuan tersebut sudah rampung selesai terpasang menyala pada 2 Juni 2019.
Diberikan secara simbolis oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan didampingi Direktur Regional JBTBN Jawa Bali dan Nusa Tenggara dalam acara peresmian PLTMG MPP Flores 20 MW di Dusun Rangko, Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (11/4) lalu.
"Bantuan ini untuk selain meningkatkan Rasio Elektrifikasi juga untuk kesejahteraan masyarakat khususnya menengah ke bawah," ujar General Manager PLN UIW NTT Ignatius Rendroyoko.
"Ini baru awal, masih banyak Benyamin-benyamin lain di luar sana yang belum menikmati listrik karena tidak mampu, oleh karena itu PLN melalui Program PLN Peduli memberikan 11.000 mulai instalasi sampai meteran terpasang bagi warga dalam kurun waktu dua bulan," lanjutnya.
©2019 Merdeka.com
Andhoko Soeyono selaku Senior Manager Niaga dan PP menambahkan, "Target kami 11.000 bisa ditengahkan tiap hari teman-teman terus bekerja menyambung sehari 183 kk hingga sekarang sudah tersambung semua dan menyala.
Harapan Rendroyoko, jika sambungan listrik sudah diberikan, yakin masyarakat akan lebih produktif. "Anak-anak kita kalau malam hari juga bisa belajar dengan tenang dan aktifitas masyarakat bisa dilakukan sampai malam hari," katanya.
Selain itu ternyata tidak hanya 11.000 masih banyak Benyamin, Benyamin lain yang hendak ingin memasang listrik tapi tidak mampu dengan biaya tersebut. Untuk meningkatkan program sambungan listrik gratis bagi masyarakat tidak mampu, tentunya peran serta dari pemerintah daerah (kabupaten/kota maupun provinsi) sangat diharapkan.
©2019 Merdeka.com
Data masyarakat tidak mampu yang masuk dalam Basis Data Terpadu (BDT) TNP2K ataupun masyarakat tidak mampu yang tinggal di daerah desa 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal) harus terdata dengan baik dan hal ini membutuhkan peran aktif dari pemerintah daerah.
"Pemerintah daerah juga berperan serta untuk mengalokasikan anggaran untuk melistriki masyarakatnya yang tidak mampu dengan listrik bersubsidi. Tentunya jargon Energi Berkeadilan dapat segera diwujudkan di bumi Flobamora," Tutup Rendroyoko.
Penantian Benyamin dalam 20 Tahun
Benyamin (50) yang bertempat tinggal di RT 11 RW 04 kelurahan bakunase Kecamatan Kota raja merupakan salah satu warga yang tidak mampu untuk menyambung listrik di rumahnya.
"Hidup saya susah, istri beta (saya) pergi TKW, dan sekarang beta dengan anak dua orang hidupnya pergi dari tempat satu ke tempat lain hingga sekarang menetap di sini," ungkapnya
Lanjutnya, kesehariannya berkembang tapi belum jelas, siang - malam hanya menanam sayur dari jam 2 pagi ke pasar lalu ke sawah bantu- bantu garap sawah milik orang.
Anak laki-laki besar sudah tamat SMA namun ijazah masih di sekolah sampai sekarang ditahan karena tidak punya biaya.
©2019 Merdeka.com
Benyamin yang biasa dipanggil To'o memiliki pendapatannya tidak menentu, kesehariannya hanyalah membantu orang dan mendapat uang sebesar Rp 5000 hingga atau terkadang 50.000 sampai seratus ribu dalam tiga hari.
"Karena sebelumnya kami hanya menggunakan pelita, lalu sempat menumpang listrik dari rumah tetangga , mau pakai aja mikir dan pakai hati dan kami harus ikut patungan membayar ke tetangga tiap membeli pulsa listrik tiap membeli," katanya.
"Berikutnya ada yang datang kasih tahu ke beta untuk dapat listrik, beta son (tidak) percaya dan akhirnya beta kasih ktp dan diminta tunggu tanggal 19 Mei 2019, rasanya sudah senang kepingin kayak orang -orang punya listrik, tapi cari duit setengah mati," ungkapnya
"Sekarang listrik sudah ada, penerangan ke kamar mandi ada, anak-anak yang dulu terbatas oleh cahaya dengan tetangga sekarang sudah punya listrik sendiri," pungkasnya.
(mdk/hhw)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya