Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Atasi defisit dagang, Indonesia diminta perbanyak pakai energi terbarukan

Atasi defisit dagang, Indonesia diminta perbanyak pakai energi terbarukan Sri Mulyani. ©2012 Merdeka.com/dok

Merdeka.com - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menyebut bahwa ketergantungan tinggi atas impor minyak menjadi salah satu faktor yang menyebabkan defisit neraca pembayaran Indonesia. Oleh karena itu, dirinya meminta Indonesia dapat mencontoh Islandia untuk memanfaatkan sumber energi terbarukan.

"Sejak 1990, Islandia benar-benar bergantung pada energi berbasis minyak bumi. Sehingga setiap kali kebutuhan meningkat, mereka impor banyak," kata Menteri Sri Mulyani saat memberikan sambutan di acara Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition (IIGCE) 2018, di JCC Senyan, Jakarta, Kamis (6/9).

Namun, di tengah kondisi ketergantungan tersebut, Islandia mampu keluar dan membuat kebijakan baru untuk menghentikan penggunaan minyak sebagai bahan baku energi.

"Mereka (Islandia) hentikan semua pembangkit bahan bakar minyak dan sepenuhnya jadi bergantung pada panas bumi. Mengingat mereka miliki potensi besar," imbuh Menteri Sri Mulyani.

Menteri Sri Mulyani berharap Indonesia, yang saat ini juga sebagai nett importir minyak, harus mengubah strategi. Tentu saja hal ini guna melepas ketergantungan terhadap impor minyak.

Diketahui, pemerintah secara resmi telah meluncurkan perluasan penggunaan B20 yakni pencampuran minyak nabati pada solar non subsidi sebesar 20 persen pada 1 September kemarin.

Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan, perluasan B20 ini dilakukan untuk mendorong ekspor dan memperlambat impor dalam rangka menyehatkan neraca pembayaran. Sehingga, ke depan langkah ini diharapkan dapat menghilangkan defisit neraca perdagangan dan mengurangi defisit transaksi berjalan.

"Kebijakan yang kita anggap dapat cepat menghasilkan tidak menunggu investasi yakni salah satunya B20. Karena begitu kita mulai dampaknya nomor satu adalah penghematan devisa dan karena soalnya itu dicampur CPO berarti berkurang kebutuhan solarnya. Kemudian kita tahu bahwa produksi dan stok CPO tinggi," jelas Menko Darmin.

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP