Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Bank Indonesia Diminta Tak Lagi Turunkan Suku Bunga Acuan

Bank Indonesia Diminta Tak Lagi Turunkan Suku Bunga Acuan Gedung Bank Indonesia. Merdeka.com / Dwi Narwoko

Merdeka.com - Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk, Adrian Panggabean menilai, Bank Indonesia tidak perlu lagi menurunkan suku bunga acuan lebih dari 3,5 persen. Meskipun ruang untuk penurunan BI 7 Days Reserve Repo Rate (BI-7DRRR) masih terbuka di tengah kondisi perekonomian nasional saat ini.

"Saya harap 7 Days Reserve ini sampai di 3,5 persen. Ini titik bawahnya, jangan dibawah ini lagi," kata Adrian, Jakarta, Kamis (25/2).

Adrian mengatakan penting bagi bank sentral untuk tetap mempertahankan suku bunganya. Sebab, secara eksternal, ini terkait besarnya ketidakpastian dari arah pergerakan aset global. Tentunya ini akan berdampak pada stabilitas nilai tukar Rupiah.

Dari sisi domestik, mempertahankan suku bunga acuan ini, bertujuan untuk menjaga monetary tank. Sehingga dapat mencegah munculnya komplikasi saat dilakukan normalisasi moneter pasca tahun 2022 atau 2023.

"Dari sisi domestik untuk menjaga agar monetary tank tidak terlalu kosong," kata dia mengakhiri.

Sudah Terpangkas 3,5 Persen, BI Akan Batasi Penurunan Suku Bunga

35 persen bi akan batasi penurunan suku bungaRekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Rabu dan Kamis, 17-18 Februari 2021 memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis points (bps) menjadi 3,5 persen, menjadi yang terendah sepanjang sejarah pemberlakuan BI7DRRR.

Sebagai catatan, BI di sepanjang 2020 juga telah memangkas suku bunga acuan sebanyak lima kali atau sebesar 125 bps, dari semula 5 persen menjadi 3,75 persen. Lantas, apakah Bank Indonesia buka kemungkinan untuk kembali memotong suku bunga acuan ke depannya?

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, pihaknya dari waktu ke waktu tentu saja akan melihat berbagai indikator, baik di tingkat ekonomi global, domestik, inflasi, nilai tukar rupiah, hingga sektor pembiayaan. Sehingga, Bank Indonesia bisa memilih instrumen apa yang tepat untuk bidang moneter, khususnya dalam menetapkan kebijakan suku bunga acuan.

"Kalau mengenai suku bunga dengan penurunan ini kan 3,5 persen. 3,75 persen yang sebelumnya itu sudah terendah sejak 2013. Dengan penurunan hari ini tentu saja ruang-ruang penurunan suku bunga itu semakin terbatas," ujar Perry dalam sesi teleconference, Kamis (18/2).

Namun, itu bukan berarti Bank Indonesia tidak punya pilihan lain. Dia memaparkan beberapa pilihan lain yakni dengan quantitative easing, pelonggaran kebijakan makro prudensial, stabilisasi nilai tukar rupiah, dan terutama mendorong percepatan digitalisasi sistem pembayaran.

"Ini akan bisa mendorong pemulihan ekonomi nasional, khususnya dari sektor retail dan UMKM. Ini akan jadi daya dukung pemulihan ekonomi juga ke depan, termasuk UMKM syariah," ucap Perry.

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP