Bank Dunia pangkas proyeksi ekonomi dunia 2017 menjadi 2,7 persen
Merdeka.com - Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 2,7 persen tahun ini dari sebelumnya 2,6 persen. Pemangkasan ini imbas dari kebijakan proteksi perdagangan oleh Amerika Serikat dan keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau Brexit.
Dilansir dari CNN Money, Rabu (11/1), tantangan utama ekonomi dunia tahun ini berasal dari dua negara tersebut. "Meningkatnya tekanan dari kebijakan proteksi, gangguan pada pasar keuangan, dan mengecewakannya kinerja pertumbuhan negara maju menjadi risiko dunia tahun ini," tulis Bank Dunia dalam laporannya.
Sementara, Bank Indonesia (BI) merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2017 menjadi di kisaran 5 sampai 5,4 persen. Angka tersebut lebih rendah ketimbang proyeksi BI sebelumnya yang berada di level 5,1 hingga 5,4 persen.
Gubernur BI, Agus Martowardojo menjelaskan, penyesuaian proyeksi pertumbuhan ekonomi karena masih melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia di kisaran 3 persen di 2016.
"Pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2016 ini kelihatannya lebih jelek dari pada tahun lalu yang ada di kisaran 3 persen. Tapi pertumbuhan ekonomi dunia untuk 2017 itu juga telah dilakukan direvisi lagi organisasi internasional," ujar Agus di Kantornya, Jakarta, Kamis (17/11).
Direktur Core Indonesia, Mohammad Faisal memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2017 masih akan relatif lambat dan diwarnai ketidakpastian. Target pertumbuhan ekonomi dunia yang berada pada kisaran 3,4 persen tahun depan, disebutnya masih penuh teka teki.
"Catatannya tahun depan masih diwarnai oleh ketidakpastian, terlebih dengan terpilihnya Donald Trump. Termasuk dengan kebijakan yang akan diambilnya," ujar Faisal di Gedung Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (15/12).
Faisal mengatakan, ketidakpastian pertumbuhan ekonomi dunia disebabkan oleh merosotnya ekonomi beberapa mitra dagang terbesar yang menyumbang ekonomi dunia. Beberapa di antaranya adalah Eropa dan China.
"Kedua negara ini mengalami perlambatan pertumbuhan di tahun 2016. Hal ini membuat pertumbuhan Ekonomi dunia tidak stabil," ungkap Faisal.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya