Ancaman Inflasi Hingga Kenaikan Suku Bunga Ada di Depan Mata
Merdeka.com - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengingatkan Indonesia harus mewaspadai lima potensi risiko global yang bisa mengganggu ekonomi Indonesia. Sebab berbagai potensi tersebut bisa memengaruhi stabilitas dan pemulihan ekonomi dalam negeri.
Pertama, pertumbuhan ekonomi yang menurun atau slow growth. Hal ini disebabkan risiko resesi di Amerika Serikat (AS) dan Eropa yang terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
"Pertumbuhan menurun slow growth. Risiko resesi di Amerika Serikat dan Eropa meningkat," kata Perry dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (30/11).
Kedua, inflasi. Sampai tahun depan, bank sentral memperkirakan tingkat inflasi terus naik dan sangat tinggi. Ini tidak terlepas dari dampak naiknya harga energi dan pangan yang terus merangkak naik.
Ketiga, tingkat suku bunga acuan yang masih akan naik dan tinggi. Apalagi suku bunga acuan The Fed Fund Rate bisa mencapai 5 persen dan tetap tinggi selama tahun depan.
Keempat, risiko global akibat kenaikan dolar Amerika Serikat yang sangat kuat. Sehingga menyebabkan tekanan depresiasi terhadap nilai tukar mata uang negara lain termasuk Rupiah.
Kelima, adanya risiko penarikan dana investor global yang mengalihkan ke aset likuid karena risiko tinggi. Perry mengatakan untuk menghadapi lima risiko global tersebut diperlukan penguatan sinergi dan koordinasi kebijakan antara pemerintah dan BI maupun Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Menurutnya, penguatan sinergi ini akan membawa perekonomian Indonesia menuju ketahanan dan kebangkitan pada 2023 sampai 2024. "Sinergi dan inovasi adalah kata kunci untuk ketahanan dan kebangkitan ekonomi nasional. Telah terbukti selama pandemi," pungkasnya.
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya