Akuisisi Danamon-DBS untungkan perbankan Indonesia
Merdeka.com - Bank Indonesia masih memperjuangkan aspek resiprokal dalam perizinan akuisisi PT Bank Danamon Indonesia Tbk oleh DBS Group Holding. Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution menyatakan, BI mengaku menunggu kepastian Monetary Authority of Singapore (Otoritas Moneter Singapura/MAS) dalam memberikan komitmen tertulis, untuk memuluskan proses akuisisi tersebut.
Darmin menegaskan, untuk menyetujui 67,37 persen kepemilikan saham Bank Danamon oleh DBS Grup, BI meminta MAS untuk memberikan kelonggaran terhadap tiga bank BUMN dalam berbisnis di Singapura. Ketiga bank BUMN tersebut yaitu, PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk dan PT Bank Negara Indonesia Tbk.
Pakar ekonomi dari Universitas Gadjah Mada Toni Prasetyantono berpendapat, daya tawar BI terhadap MAS menguntungkan perbankan Tanah Air, utamanya tiga Bank BUMN itu.
"Saya rasa ini baik, jumlah penduduk kita yang ada di sana kan lumayan banyak, di sana warga kita kan juga sering melakukan bisnis, terlebih lagi ekportir kita pasti ada di sana. Ya jika memang Bank BUMN bisa buka cabang di sana itu bagus," ujar Toni di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Selasa (21/5).
Ketiga bank pelat merah bisa segera melebarkan sayap bisnis di Singapura apabila komitmen tertulis MAS dikantongi BI. "Kalau otoritas moneter Singapura sudah berikan komitmen tertulisnya dan setuju, maka Bank BUMN bisa lebih dulu membuka cabang Bank yang kecil saja dulu, nanti kalo sudah berkembang barulah buka besar," tutur Toni.
Menurut Toni, jumlah penduduk Singapura memang jauh lebih sedikit dibanding Indonesia. Hanya sekitar 5 juta jiwa berbanding 240 juta jiwa penduduk Indonesia. Namun Toni yakin pangsa pasar perbankan Singapura masih belum jenuh. Ini juga disebabkan oleh jumlah bank di Singapura tidak banyak.
"Singapura itu jumlah bank kan sedikit sekali, jumlahnya hanya paling 10-an gitu yah. Menurut saya ini oportunity yang baik kalau DBS mau mengakuisisi Danamon, kita punya positioning yang baik untuk memberi kesempatan bank-bank kita buka disana. Saya kira, Mandiri, BNI, BCA punya peluang di sana," ucap Toni.
Toni menyarankan, untuk perbankan domestik yang berniat melebarkan sayapnya di Singapura, mulai merambah bisnis yang lebih luas ketimbang hanya layanan remitansi saja, agar upaya BI memperjuangkan resiprokalitas tidak sia-sia dan bisa dimanfaatkan maksimal.
"Selama ini eksposurenya kan hanya remittance, remittance dari TKI/TKW. Perlu lebih dari it. Ya tentunya buka cabang kecil dulu. Punya pelayanan-pelayanan yang khas. Ya mungkin awalnya melayani pengusaha-pengusaha Indonesia dulu, eksportir importir, kan semua eksportir kita pasti ada di Singapura, biasa mereka simpan uang di Singapura. Eksportir importir yang punya account di bank Singapura nanti bisa mengalihkannya ke bank asal Indonesia yang ada di Singapura. Opportunity ini harus kita ambil," tutup Toni. (mdk/noe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya