Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

5 Fakta di balik masalah sampah RI, hingga ikut ciptakan pulau raksasa di dunia

5 Fakta di balik masalah sampah RI, hingga ikut ciptakan pulau raksasa di dunia Sapi makan sampah plastik. ©Reuters/Thomas Mukoya

Merdeka.com - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) mencatat tonase sampah di Indonesia terbilang tinggi yang mencapai 65 juta ton per tahun. Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya Beracun, Kemen LHK, Tuti Hendrawati Mintarsih mengungkapkan, produksi sampah terus meningkat setiap tahun.

Hal ini disebabkan semakin tingginya angka penduduk Indonesia. "Rata-rata naiknya satu juta ton, untuk tahun terakhir mencapai 65 juta ton," ungkap Tuti.

NASA pernah merilis sebuah animasi singkat yang menunjukkan sampah di lautan dunia. Dari animasi itu, terlihat bila sampah menumpuk di lima bagian samudra terbesar di Bumi, yakni samudra Hindia, Pasifik (utara dan selatan), dan Atlantik (utara dan selatan). Semua sampah itu terbawa arus hingga membentuk pulau-pulau sampah raksasa.

Data NASA juga menunjukkan bila per tahunnya ada sekitar 8 juta ton sampah yang sebagian besar adalah plastik berakhir di lautan. Celakanya, mayoritas sampah-sampah itu berasal dari negara-negara di Asia, yakni China, Indonesia, Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka.

Saat ini sampah-sampah itu membentuk pulau sampah di sekitar Amerika, Kepulauan Karibia, Cile, Brasil, dan Australia. Selain membahayakan lingkungan, sampah-sampah tersebut sangat mematikan bagi hewan liar.

World Economic Forum (WEF) memprediksi pada 2050 mendatang, jumlah plastik di lautan akan lebih banyak dibanding ikan. Mereka memperkirakan bahwa 2050 mendatang, jumlah plastik yang diproduksi secara global meningkat tiga kali lipat menjadi 1,124 miliar ton.

Berikut merdeka.com akan merangkum sejumlah fakta di balik masalah sampah di Indonesia. Selamat membaca.

Pengelolaan sampah plastik terbentur masalah dana

plastik terbentur masalah dana rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, mengatakan pengelolaan limbah padat di Indonesia adalah masalah yang rumit. Sebab, membutuhkan dana sekaligus keputusan politik."Di Indonesia, sebagai bagian dari otonomi daerah, pengelolaan sampah merupakan masalah di bawah yurisdiksi pemerintah daerah baik di tingkat kota atau tingkat kabupaten. Ini bukan lagi tanggung jawab pemerintah pusat, namun dampaknya pengelolaan sampah yang tidak sempurna di tingkat daerah berdampak langsung pada tingkat nasional dan bahkan tingkat global seperti pada kasus puing-puing plastik laut," ujarnya.Menurut analisis Bank Dunia, standard global untuk pendanaan minimum limbah padat adalah USD 10 - USD 15 per orang per tahun, sedangkan di Indonesia baru USD 5 - USD 6 per orang per tahun atau sekitar 2,6 persen dari jumlah total APBD."Jelas, di tingkat nasional ada kekurangan sekitar USD 5 - 9 per orang per tahun atau antara USD 1,3 miliar menjadi USD 2,3 miliar," tegasnya.

Indonesia nomor 4 negara pengguna botol plastik

4 negara pengguna botol plastik rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Indonesia menjadi negara ke-4 pengguna botol plastik terbanyak di dunia. Tercatat penggunaan botol plastik di negara kita mencapai 4,82 miliar.Menurut lembaga internasional Euromonitor, hampir setengah dari penjualan botol minuman tahun lalu, disumbang oleh Danone Aqua. Pesatnya industri botol minuman di Indonesia disebabkan oleh meningkatnya urbanisasi dan jumlah penduduk.Asosiasi produsen minuman botol melaporkan penjualan produk botol minuman meningkat dari 12,8 miliar liter per 2009 menjadi 23,1 miliar di 2014.

Sampah plastik bisa timbulkan terorisme

bisa timbulkan terorisme rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Konferensi Tingkat Tinggi Sampah Plastik di Laut akan diselenggarakan awal bulan September di Bali, diikuti antara lain oleh China, India, Amerika Serikat, Rusia and Jepang, Selandia Baru, Australia, dan ASEAN."Sampah plastik laut ini telah menimbulkan kerugian sebesar USD 1,2 miliar di bidang perikanan, perkapalan, pariwisata dan bisnis asuransi. Ini bisa berujung kepada malapetaka jika kita tidak segera bergerak karena pengangguran bisa menimbulkan masalah kemiskinan dan sosial dan akan berujung pada radikalisme dan terorisme," ujar Menko Luhut Panjaitan.

Indonesia penghasil sampah plastik terbesar di dunia

sampah plastik terbesar di dunia rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Menurut Jenna Jambeck, ilmuwan dari Universitas Georgia, negara-negara yang tengah berkembang pesat seperti Indonesia cenderung menjadi penghasil sampah plastik terbesar di dunia. Hal itu diperparah dengan minimnya sarana daur ulang yang memang kurang mendapat perhatian masyarakat.Celakanya, jumlah sampah plastik yang dibuang ke lautan diprediksi bakal meninggkat dua kali lipat dalam 10 tahun mendatang."Ini masih bisa bertambah parah. Jika kita berasumsi bila kehidupan ekonomi masih akan terus berkembang seperti saat ini, jumlah penduduk terus bertambah, maka jumlah sampah plastik yang memenuhi lautan bakal meningkat dua kali lipat di tahun 2025," ujar Jambeck.

2025, Indonesia ditarget bisa selesaikan 70 persen masalah sampah

ditarget bisa selesaikan 70 persen masalah sampah rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Saat ini, seperti di banyak negara, bahwa pengelolaan sampah di dunia masih sangat minim, terutama plastik. Oleh karenanya, Menko Luhut menargetkan pada 2025 Indonesia harus bisa menyelesaikan 70 persen masalah sampah plastik."Kita harus mobilisasi kekuatan bersama negara maju yang sudah berhasil mengelola plastik. Tadi sudah disebutkan plastik seluruh dunia baru 10 persen yang dikelola. Negara maju aja begitu apalagi kita," kata Menko Luhut.Menko Luhut menilai, untuk menutup celah ini tidaklah mudah serta harus menemukan solusi yang tepat. "Kita perlu mencari beberapa solusi yang bisa dijalankan secara paralel, seperti berkampanye untuk 3R, membersihkan pantai, mendukung industri bio-plastik, mempertimbangkan membayar kantong plastik sekali pakai, limbah untuk energi, dan ide inovatif serta membangun kolaborasi dengan mitra yang berminat antara Pemerintah, industri dan LSM," pungkasnya.

 

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP