4 Strategi OJK hadapi pembobolan rekening nasabah
Merdeka.com - Dunia perbankan Indonesia saat ini dinilai rentan tindak kejahatan. Beberapa kasus pembobolan dana nasabah sudah beberapa kali mencoreng muka industri perbankan Tanah Air.
Otoritas Jasa Keuangan ( OJK ) sebagai 'bos besar' industri perbankan pun geram. Pasalnya, adanya kejadian ini berpotensi membuat kepercayaan masyarakat terhadap industri keuangan Indonesia pudar.
Perbankan dalam negeri diminta memetik pelajaran dari kejadian pembobolan dana nasabah selama ini dan jangan sombong dalam masalah teknologi.
"Makanya (perbankan) jangan sombong. Kalau masalah IT engga boleh banyak bicara, oh saya aman. Belum tentu," ucap Deputi Komisioner Managemen Strategis 1 OJK , Lukcy Fathul Hadibrata.
Bank Indonesia, sebagai mantan pengawas industri perbankan Indonesia, turut mengungkapkan kekesalannya. BI kesal perbankan masih terjebak dengan modus operandi para pelaku yang justru menggunakan trik kuno. Tentunya nasabah menjadi pihak yang dirugikan dari kasus ini.
Deputi Gubernur BI, Halim Alamsyah, menyayangkan industri perbankan tidak aktif melakukan pencegahan atas praktik dengan metode yang justru klasik.
"Misalnya, mereka (pembobol) menaruh kamera kecil di ATM (anjungan tunai mandiri). Itu yang memang perlu dicari langkah-langkah (penanganan), supaya hal-hal seperti itu tidak terjadi lagi," ujarnya di Gedung BI.
Seperti diketahui, Kepolisian Republik Indonesia baru-baru ini membekuk enam warga Malaysia yang tergabung dalam sindikat pencurian data dan pembobol kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM) Bank Central Asia ( BCA ).
Para pelaku pembobol ATM berhasil melakukan aksi kejahatan terhadap 112 nasabah senilai Rp 1,2 miliar.
Selain BCA , kasus teranyar yang menghebohkan adalah upaya pembobolan rekening 1.214 nasabah Bank Mandiri oleh jaringan asal Kanada. Aksi ini dijalankan dengan metode skimming, yakni pelaku mengakali mesin ATM atau gesek debit (EDC)untuk merekam pita magnet kartu nasabah, sehingga terjadi transaksi ilegal.
Direktur Utama Mandiri Budi Gunadi Sadikin lewat akun Twitter-nya kemarin (13/5), mengakui ada 10.000 nasabahnya yang berpotensi terkena tindak kejahatan cyber itu. Ini berujung pada keputusan bank BUMN itu memblokir ribuan rekening akhir pekan lalu, supaya tidak terjadi hal tidak diinginkan. Sayangnya, pemblokiran ini sempat memicu kepanikan nasabah Mandiri di beberapa kota.
"Hari Sabtu (10/5), kita run advance transaction analytics tool ke seluruh nasabah kita, teridentifikasi 1.214 nasabah kita yang mungkin kena. Kita juga temukan sekitar 6 ATM yang kemungkinan besar dipasangi 'skimmer'," kata Budi lewat akun @BudiGSadikin.
Sejauh ini, seluruh nasabah yang diduga menjadi korban langsung diminta mengganti kartu debit masing-masing ke cabang Mandiri terdekat. Adapun yang sudah melaporkan kehilangan uangnya, kata Budi, mencapai 100 rekening. "Mereka sudah komplain ke kita. Bank Mandiri berjanji mengganti uang nasabah yang hilang dalam 14 hari".
Lalu apa saja langkah OJK , sebagai otoritas pengawas perbankan, mengatasi hal ini? Berikut merdeka.com mencoba merangkumnya.
Bentuk unit perlindungan nasabah
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comOtoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta semua perusahaan jasa keuangan membuat unit khusus perlindungan data nasabah. Ketentuan ini harus dijalankan mulai Agustus mendatang."Ini bentuk satu antisipasi dan di Agustus itu kan sudah ada pembentukan di setiap lembaga jasa keuangan itu perlu ada unit khusus perlindungan nasabah," ucap Deputi Komisioner Manajemen Strategis I OJK Lukcy Fathul Hadibrata di kantornya, Jakarta, Jumat (16/5).Unit khusus ini nantinya akan menjadi garda terdepan pelindung nasabah. OJK bakal terlibat jika unit khusus tersebut tidak bisa menuntaskan sehingga menyebabkan nasabah merugi hingga Rp 500 juta."Kalau sampai Rp 500 juta datang ke OJK untuk dijembatani atau misal tidak ada kecocokan. kita juga akan membentuk lembaga arbitrase/mediasi."
Penggunaan keamanan kartu menggunakan chip
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comDeputi Komisioner Manajemen Strategis 1 OJK, Lukcy Fathul Hadibrata menegaskan, demi meningkatkan keamanan nasabah, OJK juga telah meminta kepada semua perbankan agar menggunakan kartu berbasis chip. Kartu ini dinilai lebih aman dalam masalah keamanan. "Januari 2016 sudah gunakan chip. itu keamanan jauh lebih baik. Sekarang kan magnetic di kartu kredit. sekarang harus pakai chip semua," tuturnya.
Tidak berpuas diri
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comOtoritas Jasa Keuangan (OJK) merespon keras kejadian pembobolan bank beberapa waktu lalu. Perbankan dalam negeri diminta memetik pelajaran dari kejadian ini dan jangan sombong dalam masalah teknologi."Makanya (perbankan) jangan sombong. Kalau masalah IT engga boleh banyak bicara, oh saya aman. Belum tentu," ucap Deputi Komisioner Managemen Strategis 1 OJK, Lukcy Fathul Hadibrata di Gedung OJK.
Tingkatkan monitoring
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comDeputi Komisioner Manajemen Strategis 1 OJK, Lukcy Fathul Hadibrata mengatakan OJK akan terus memantau perkembangan kasus ini dan membuka pintu selebar-lebarnya bagi nasabah yang merasa dirugikan."Perlindungan konsumen pun kita tetapkan harus jalan. Kita monitor, dia harus lapor dan kita juga membuka untuk pengaduan tidak puas silakan mengadu," tegasnya.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya