Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

4 Fakta seputar tenaga kerja dan pengangguran di Indonesia

4 Fakta seputar tenaga kerja dan pengangguran di Indonesia

Merdeka.com - Masalah pengangguran dan tenaga kerja di Indonesia masih menjadi persoalan yang perlu disikapi secara serius. Terlebih, dari data yang disampaikan Bank Dunia, kawasan Asia Timur memiliki tantangan besar terkait meluasnya pengangguran.

"Pengangguran usia muda yang tinggi, kesenjangan yang meluas dan keterbatasan keterampilan menjadi masalah yang mendasar," ujar Wakil Presiden Bank Dunia Asia Timur dan Pasifik, Axel van Trotsenburg saat konferensi pers terkait perekonomian Indonesia dan Asia Timur saat berkunjung ke Jakarta beberapa waktu lalu.

Terbaru, Badan Pusat Statistik (BPS) melansir data mengenai kondisi tenaga kerja di Indonesia. Angkatan kerja Indonesia per Februari 2014 mencapai 125,32 juta orang. Angka ini meningkat jika dibandingkan angkatan kerja Februari 2013 yang hanya 123,64 juta orang.

Kelompok angkatan kerja adalah penduduk yang masuk dalam usia kerja yaitu 15 tahun ke atas. Kepala BPS Suryamin mengatakan, dari jumlah angkatan kerja tersebut, sebanyak 118,17 orang bekerja dan sisanya 7,15 juta orang menganggur. Dari data BPS angka pengangguran di Indonesia turun tipis. "Struktur dari 125,3 juta orang itu sekitar 7,15 juta diantaranya masih mencari pekerjaan. Jadi tingkat pengangguran 7,15 juta orang. Dalam satu tahun jumlah pengangguran berkurang 50.000 orang," ucap Suryamin dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (5/5).

Jumlah pengangguran di Indonesia memang menurun. Tapi ironinya, jumlah pengangguran terdidik di Indonesia semakin banyak. hal itu juga sekaligus menggambarkan kondisi dan kualitas tenaga kerja di Indonesia. "Pengangguran memang menurun dari 7 persen dua tahun lalu, sekarang 6 persen. Tapi komposisi pengangguran terdidik itu semakin tinggi," ujar Ketua Komite Tetap Sertifikasi Kompetensi Tenaga Kerja Kadin Sumarna F Abdurrahman belum lama ini.

Bank Dunia sempat menyarankan agar negara di kawasan ini membuat kebijakan untuk menjaga stabilitas makro ekonomi sekaligus mendorong terciptanya usaha kecil dan menengah, sektor yang banyak digeluti oleh penduduk Asia Timur. Selain itu perlu juga memperluas cakupan pekerjaan formal untuk meningkatkan perlindungan risiko kerja dan perlindungan sosial serta mempertahankan pertumbuhan.

Merdeka.com mencatat beberapa fakta seputar kondisi tenaga kerja dan pengangguran di Indonesia. Berikut paparannya.

Banyak lulusan SMA jadi pengangguran

sma jadi pengangguran rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Badan Pusat Statistik (BPS) melansir data pengangguran terbaru di Indonesia per Februari 2014. Dari data tersebut, pengangguran di Indonesia didominasi oleh lulusan SMA.

Lulusan SMA yang menganggur mencapai 9,10 persen dari total penganggur di Indonesia per Februari 2014 yang mencapai 7,15 juta orang. Persentase pengangguran lulusan SMA menurun dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 9,39 persen.

Kepala BPS Suryamin mengatakan tingkat pengangguran tertinggi kedua di Indonesia adalah lulusan SMP, mencapai 7,44 persen.

"Jika dibandingkan keadaan Februari 2013, tingkat pengangguran terbuka pada semua tingkat pendidikan mengalami penurunan kecuali pada tingkat SD ke bawah dan Diploma," ucap Suryamin di kantornya, Jakarta, Senin (5/5).

Dari data BPS, tingkat pengangguran paling kecil berasal dari lulusan SD. Hanya 3,69 persen dari total seluruh pengangguran. Sedangkan tingkat pengangguran terkecil kedua adalah lulusan universitas dengan persentase hanya 4,31 persen.

Banyak pekerja di Indonesia lulusan SD

di indonesia lulusan sd rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Data BPS per Februari 2014, jumlah orang yang bekerja di Indonesia mencapai 118,17 orang. Sedangkan pengangguran mencapai 7,15 juta orang menganggur.

Kepala BPS, Suryamin mengatakan, angkatan kerja Indonesia masih didominasi lulusan SD. Dari 118,17 juta orang yang bekerja, 55,3 juta orang atau 46,80 persen berasal dari lulusan SD.

"Pekerja lulusan SMP terbanyak kedua sebesar 21,1 juta orang atau 17,82 persen," ucap Suryamin di kantornya, Jakarta, Senin (5/5).

Suryamin menyebut jumlah angkatan kerja lulusan SD turun jika dibandingkan Februari tahun lalu. Februari 2013 jumlah pekerja lulusan SD mencapai 56,49 juta.

Sejalan dengan turunnya pekerja lulusan SD, kata Suryamin, jumlah pekerja lulusan universitas mengalami peningkatan. Per Februari 2014, pekerja lulusan universitas tercatat mencapai 8,85 juta orang. Angka ini naik dibanding Februari 2013 yang hanya 8,07 juta orang.

Hal serupa juga terjadi pada jumlah pekerja lulusan SMA yang naik menjadi 18,91 juta orang dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya 17,95 juta orang. Sedangkan jumlah pekerja lulusan Diploma sedikit menurun dari 3,25 juta orang di Februari 2013 menjadi 3,13 juta orang Februari 2014.

"Dalam setahun terakhir, penduduk bekerja berpendidikan rendah menurun 76,8 juta orang. Sementara penduduk bekerja berpendidikan tinggi meningkat 11,3 juta orang atau 9,72 persen," tutupnya.

Lapangan kerja pertanian ditinggalkan

pertanian ditinggalkan rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Dengan predikat sebagai negara agraris, Indonesia justru belum memaksimalkan peran sektor pertanian. Bahkan sektor ini mulai terpinggirkan. Salah satu indikatornya terlihat dari data terbaru yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai struktur lapangan pekerjaan Indonesia hingga Februari 2014.

Dalam data tersebut, lapangan pekerjaan sektor pertanian konsisten ditinggalkan masyarakat. Pada Februari 2012 jumlah masyarakat bekerja sektor pertanian mencapai 42,36 juta orang. Setahun kemudian atau Februari 2013, jumlah pekerja ini turun hingga hanya 41,11 juta orang. Per Februari 2014, pekerja sektor pertanian tinggal 40,83 juta orang.

Sejalan dengan itu, lapangan kerja yang terus meningkat jumlah pekerjanya dalam 3 tahun terakhir adalah lapangan kerja sektor industri, konstruksi, perdagangan, transportasi, keuangan, serta jasa kemasyarakatan.

Kepala BPS Suryamin menuturkan, jumlah penduduk yang bekerja mengalami kenaikan pada hampir semua sektor. Terutama sektor jasa kemasyarakatan meningkat sebanyak 640.000 dalam satu tahun terakhir.

"Sektor perdagangan bertambah 450.000, sektor industri bertambah 390.000 orang. Sedangkan mengalami penurunan hanya sektor pertanian sebanyak 280.000 orang berkurang dibanding tahun lalu," tutupnya.

SDM tak berkualitas

berkualitas rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Suryo B. Sulisto menyoroti kondisi tenaga kerja di Indonesia yang semakin memprihatinkan. Masalah paling krusial dihadapi saat ini adalah jumlah penduduk yang terus meningkat dalam 10 tahun terakhir namun tidak dibarengi dengan tersedianya lapangan kerja.

Menurut pria yang akrab disapa SBS ini, program Keluarga Berencana (KB) tidak lagi berjalan. Di lain pihak jumlah penyerapan tenaga kerja dalam negeri tidak berkembang bahkan cenderung menurun.

"Ini ada keprihatinan yang serius dalam hal tenaga kerja khususnya pada sumber daya manusia pada umumnya," ucap SBS dalam seminar di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu (30/4).

Kualitas tenaga kerja di Indonesia diragukan, sehingga lahir banyak pengangguran. Ketua Komite Tetap Sertifikasi Kompetensi Tenaga Kerja Kadin Sumarna F Abdurrahman mengakui, saat ini ada missmatch antara kualitas pendidikan di Indonesia dengan kebutuhan pengusaha. Kualitas pendidikan tidak menyiapkan lulusannya untuk bekerja.

Sumarna berujar, banyak pengusaha yang akhirnya terpaksa merekrut pekerja yang tidak kompeten. Ini dilakukan karena jumlah pengangguran terdidik di Indonesia terus meningkat.

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP