4 Fakta seputar maraknya peredaran daging celeng
Merdeka.com - Saban Ramadan, harga daging sapi melonjak tajam. Meskipun pemerintah mengklaim harga daging sapi sudah dijaga di bawah Rp 100.000 per kg, di beberapa daerah masih ditemukan harga daging sapi di atas Rp 100.000 per kg.
Tingkat konsumsi masyarakat yang tinggi saat ramadan, membuka ruang beredarnya daging oplosan yang jauh lebih murah dari daging sapi. Daging oplosan merupakan daging sapi yang dioplos dengan daging celeng. Masyarakat pun dibuat was-was dengan maraknya penjualan daging sapi oplosan.
Pengawasan daging wajib diperketat untuk melindungi masyarakat dari maraknya peredaran daging oplosan. Informasi dari Kementerian Pertanian, wilayah yang rentan penyelundupan daging celeng yakni perairan sekitar Selat Sunda, atau Pelabuhan Bakauheni Lampung, dan Merak, Banten yang menjadi jalur distribusi daging celeng dari Pulau Sumatera ke Jawa.
Benar saja, belum lama ini 15 ekor babi dan daging celeng seberat 1,5 ton tanpa dokumen asal pulau Sumatra diamankan Balai Karantina Hewan Cilegon bersama Polsek Puloampel, di Pelabuhan Pelindo Puloampel, Kabupaten Serang. Wilayah rentan lainnya adalah Selat Malaka, yang kerap menjadi pintu masuk daging sapi ilegal dari India dan Malaysia.
Untuk daging celeng ilegal, misalnya, pada 2013, Barantan berhasil mengamankan 21.000 kilogram, sedangkan pada kurun Januari-Mei 2014, sebanyak 3.300 kilogram daging celeng disita dan dimusnahkan. Diduga kuat daging tersebut mengandung banyak cacing pita yang berbahaya jika dikonsumsi manusia.
Merdeka.com mencatat beberapa fakta seputar maraknya peredaran daging celeng di pasar dalam negeri. Berikut paparannya.
Pedagang sulit bedakan dengan daging sapi
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comWakil Menteri Perdagangan menyebut, salah satu faktor maraknya peredaran daging celeng oplosan di pasar dalam negeri lantaran minimnya pengetahuan pedagang tentang daging.
Umumnya, pedagang sulit membedakan daging sapi asli dengan daging sapi yang sudah dioplos daging celeng lantaran bentuknya hampir sama. Diakuinya, cukup sulit membedakan daging babi hutan dengan babi biasa.
"Ahlinya pun sulit membedakan daging babi putih dengan daging celeng sebab sama secara DNA. Kalau daging celeng, tidak akan banyak karena hasil buruan," jelas Bayu disela kunjungannya di Lotte Mart, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa (15/7).
Sesungguhnya, kata dia, tidak ada larangan menjual daging babi. "Jual daging babi boleh asal jangan diaku sebagai daging sapi. Yang jadi masalah itu penipuan, bukan masalah daging babinya," ucap mantan wakil menteri pertanian tersebut.
Pemerintah tak bisa hentikan
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comMenteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengakui tidak bisa menyetop peredaran daging babi hutan atau celeng yang biasa terjadi setiap Ramadan. Sebagai langkah preventif, pihaknya hanya bisa mengimbau kepada pedagang agar tidak melakukan praktek licik, menjual daging celeng diakui sebagai daging sapi.
"Ini kan permintaan meningkat, berarti ada tindakan-tindakan itu, kami kan nggak bisa melarang atau nggak bisa menyetop orang yang ingin melakukan tindakan curang. Yang bisa dikerjakan mengimbau supaya tidak lakukan kecurangan, dan kalau curang ditindak sesuai undang-undang yang berlaku," katanya, di Jakarta, Jumat (4/7).
Menurut Lutfi, menghentikan peredaran daging celeng bukan ranah Kementerian Perdagangan. Lantaran, peredaran daging celeng sudah tergolong kriminal, maka itu harus ditangani langsung oleh kepolisian.
Banyak berasal dari Sumatera
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comPemerintah menduga, pasokan daging celeng atau babi hutan berasal dari Sumatera Selatan. Hal itu dikatakan Kepala Badan Karantina Pertanian Kementan, Banun Harpini.
Daging celeng ini kebanyakan didapat di daerah kawasan Sumatera yang masih banyak babi liar di hutan-hutan dan perkebunan sawit.
"Di daerah Sumatera itu banyak terjadi perburuan babi liar. Di kawasan hutan daerah-daerah tersebut sumber daging celeng hasil buruan," terangnya.
Adanya daging celeng berasal dari daerah Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, karena kebiasan orang disana berburu babi liar. Itu ada di kawasan hutan dan perkebunan
"Padahal perburuan itu tidak diperbolehkan," ungkapnya.
Penindakan belum sampai big bos
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comKementerian Pertanian (Kementan) mengaku sulit mengidentifikasi pelaku utama peredaran daging celeng atau babi hutan ilegal. Selama ini penindakan terhadap pengedar daging celeng baru menyentuh pelaku yang diduga hanya menjadi anggota jaringan, bukan otak jaringan peredaran itu.
"Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Selama ini kami tangkap sopir-sopir bus atau angkutan yang mendistribusikan daging celeng ini. Ketika diinterogasi, siapa pelaku utamanya, para sopir ini sulit mengaku," kata Kepala Badan Karantina Kementerian Pertanian Banun Harpini.
Tidak menutup harapan dengan ditangkapnya tersangka pelaku peredaran daging celeng yang saat ini ada dalam pengadilan, maka bisa membuka jaringan-jaringan distribusi daging celeng yang ada di pasaran.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya