2019, RI berpotensi kekurangan pasokan listrik
Merdeka.com - Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa mengatakan Indonesia berpotensi mengalami kekurangan pasokan listrik pada tahun 2018-2019. Ini ditunjukkan dengan rendahnya angka pasokan listrik setiap tahun.
"Kalau dilihat dari tambahan pasokan sekarang agak lamban karena untuk kondisi aman itu kita butuh tambahan 4-4,5 Gigawatt (GW) per tahun," ungkapnya dalam diskusi di Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (15/8).
"Sementara 2015-2016 kemarin, kita di bawah itu. Di bawah 3 GW. 2017 ini juga tidak akan lebih dari 3 GW," jelasnya.
Potensi kekurangan listrik pada periode 2018 sampai 2019 itu juga dapat diukur dengan banyaknya pembangkit-pembangkit listrik baru yang akan mulai memasok listrik pada akhir 2019 dan 2020.
"Nanti pembangkit akan banyak masuk di akhir 2019 -2020, yang sekarang masih konstruksi. Ini membuat dua tahun ke depan kondisi pasokan listrik tidak terlalu aman," jelasnya.
Untuk itu, dia mengharapkan pemerintah, khususnya Kementerian ESDM memberikan perhatian pada tersedianya pasokan listrik. Salah satunya dengan mengoptimalkan pembangkit-pembangkit listrik yang sudah ada.
"Perlu menjadi perhatian pemerintah, Kementerian ESDM sebagai regulator, agar pasokan listrik bisa terjamin. Untuk dua tahun ke depan," pungkasnya.
(mdk/sau)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya