Sebabkan Ratusan Orang Tewas di Korea Selatan, Ini Asal-usul Perayaan Halloween
Merdeka.com - Perayaan Halloween di Itaewon, Korea Selatan, menyisakan duka mendalam bagi banyak orang. Sebanyak 149 orang dilaporkan tewas dalam acara yang digelar di salah satu distrik kosmopolitan paling terkenal di Kota Seoul itu.
Dilansir dari Reuters, tewasnya ratusan orang tersebut diketahui dipicu oleh kerumunan besar yang membuat banyak orang menjadi kesulitan bergerak hingga bernapas. Kejadian ini pun langsung menjadi perhatian masyarakat dunia.
Banyak orang ikut prihatin lantaran antusiasme warga untuk datang ke acara pesta justru berujung duka. Lantas, bagaimana sebenarnya sejarah dari perayaan Halloween itu sendiri? Simak ulasannya:
Perayaan Halloween
Perayaan Halloween biasanya dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 31 Oktober. Halloween identik dengan tradisi menggunakan kostum dan dekorasi berbau horor. Kebiasaan dari tradisi ini sendiri ternyata berawal dari sebuah Festival Celtic Kuno bernama Samhain (Saman).
Melansir dari laman dw, pada zaman dulu dalam festival ini orang-orang akan menyalakan api unggun dan mengenakan kostum seram dengan tujuan untuk mengusir roh jahat dan hantu.
Kemudian, pada abad ke-8 Paus Gregorius III mengganti festival tersebut sebagai peringatan untuk menghormati orang suci (saint) atau All Saints Day pada tanggal 1 November. Bangsa Celtic kemudian juga merayakan tahun baru mereka setiap 1 November.
Perayaan Halloween Pada 31 Oktober
Bangsa Celtic juga mempercayai bahwa sebelum tahun baru, batas antara dunia orang hidup dan mati menjadi kabur. Maka dari itu, pada malam 31 Oktober mereka merayakan Samhain lantaran meyakini bahwa roh orang yang sudah mati akan kembali ke bumi.
Untuk memeringati peristiwa itu, pendeta Celtic dulunya akan membuat api unggun yang besar di mana orang-orang akan berkumpul untuk membakar tanaman dan hewan sebagai persembahan kepada dewa mereka.
Selama perayaan berlangsung, mereka juga mengenakan kostum yang biasanya berasal dari kepala dan kulit binatang dengan tujuan untuk mengusir para hantu. Dari situlah banyak orang kini menggunakan kostum menyeramkan saat merayakan Halloween.
Asal Nama Halloween
Pada abad ke-7 Masehi, Gereja Katolik Roma mengubah All Saints Day atau All Hallows yang merupakan hari perayaan orang-orang kudus gereja, menjadi 1 November. Untuk menarik masyarakat, beberapa tradisi Samhain kemudian dilebur ke dalam peringatan All Saints Day, misalnya All Hallows Eve (malam sebelum Halloween). Nama All Saints Day pun lalu diganti menjadi Halloween. Lama kelamaan tradisi festival Samhain berubah menjadi kegiatan seperti yang saat ini banyak dilakukan saat Hallowen, salah satunya bermain trict-or-treat.Seiring waktu, Halloween juga berevolusi menjadi rangkaian beragam kegiatan yang menyenangkan. Orang-Orang biasanya akan berkumpul menggunakan kostum unik, melakukan trick-or-treat, ukiran jack-o-lanterns pada labu, dan banyak kegiatan menyenangkan lainnya.
Tragedi Itaewon
Perayaan Halloween yang seharusnya menyenangkan justru berubah menjadi duka bagi masyarakat Korea Selatan. Ratusan orang meninggal dunia usai berdesakan pada acara Halloween di kawasan Itaewon, Korea Selatan, pada Sabtu (29/10). Mayoritas korban meninggal merupakan anak muda berusia 20-an tahun.Pejabat Departemen Pemadam Kebakaran Korsel, Choi Seong Beom melaporkan, data sementara ada 149 orang meninggal dunia dalam tragedi festival Halloween. Sementara itu, tercatat 65 orang mengalami luka-luka.
19 Orang dari total korban terluka berada dalam kondisi serius dan menerima perawatan darurat. Tidak tertutup kemungkinan jumlah korban tewas bisa meningkat.
(mdk/khu)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya